NEW Literacy

Di Sela Perjalanan Panjang



Segelas kopi di pagi hari
Matic Pustaka- Cerita pendek bertajuk kopi di pagi hari.

Segelas kopi di pagi hari menemani duduk di ruang tamu yang dikelilingi tumpukan buku. Seperti motto sebuah perguruan tinggi swasta di salah satu daerah “bisa dicicil”, itulah yang mengilhami proses pengelolaan perpustakaan mandiri yang sedang mengalami kevakuman. Ada, tetapi tidak nampak, berdiri namun tak terlihat. Sebuah perpustakaan yang sudah berdiri sejak dua tahun lebih, mengalami pasang surut sirkulasinya. Ibarat orang mengadu nasib mengalami kembang-kempis timbul tenggelam. Bahkan kata seorang guru kami “tidurnya terlalu lama.” Tidak bisa dipungkiri, perihal kegiatan yang berstatus sosial kemasyarakatan, jika tidak dipupupk oleh semangat baru dari segala sumber, pasti akan mengalami sebuah stagnan atau hanya terdiam. Terlebih tanpa adanya sebuah tim yang bekerja di dalamnya.

Membagi waktu antara bekerja dan berkegiatan bukan hal mudah untuk dilakukan, perlu sebuah manajemen yang baik mengelolanya. Dasar dari sebuah konsisten adalah rasa suka atau hobi. Jika kita sudah menyukai sebuah pekerjaan, walaupun pada akhirnya tidak mendapatkan finansial seperti layaknya menjalani sebuah pekerjaan, namun disisi lain akan menemukan sebuah kepuasan tersendiri. Fadktor lain adalah miskin ide, ketidakkreatifan dalam menemukan formulasi untuk menggaet minat masyarakan di dunia baca bisa menjadi salah satu faktor kevakuman sebuah perpustakaan. Terlebih lagi dewasa ini semua orang disuguhkan dengan kemudahan-kemudahan menemukan sesuatu apapun. Mulai dari mencari cara memasak, makanan, bahkan menemukan barang belanjaan yang diinginkan pun cukup dengan meng-klik dan dalam hitungan detik sudah bisa diketahui keberadaannya. Cukup mudah bukan?

Sebagai kita yang memiliki kepedulian terhadap generasi masa depan, tentu kita berfikir secara panjang dan matang dalam menyikapi hal demikian. Tidak semudah seperti apa yang kita bayangkan sebelumnya, budaya membaca memang terkesan ketinggalan jaman. Namun, jika kita tilik secara perlahan dan dari segi kemanfaatan, ternyata jauh ke depan manfaat yang bisa kita peroleh dari membaca buku sangatlah luar biasa. Mungkin untuk saat ini kita belum bisa merasakan dampaknya secara langsung, akan tetapi beberapa waktu mendatang, kita akan dapat merasakannya dampak dari membaca buku.

Sebagai contoh, dalam sebuah pendidikan/sekolah, jika kita malas membaca buku, untuk menjawab sebuah soal yang diberikan oleh guru kita pasti kita akan mengalami kesulitan. Kecuali jika kita memiliki kemampuan di atas rata-rata, yang diterangkan sekali bisa mengingatnya berkali-kali. Itu sebuah contoh yang bisa kita jumpai di sekolah-sekolah. Ada banyak contoh lagi dari manfaat membaca buku lainnya. Yang jelas, dari beberapa manfaat yang dapat kita ambil, kegiatan membaca buku merupakan hal positif yang perlu kita biasakan sejak kita mengenal huruf, dengan harapan setelah kita mulai mengikuti perkembangan jaman, tidak akan ada kata sulit setelah kita lakukan membaca buku.

Kembali lagi kepada permasalahan tadi, perpustakaan mandiri yang kami kelola memiliki tujuan yang salah satunya adalah mendekatkan buku bacaan kepada masyarakat. Sasaran utama adalah warga terdekat di lingkungan kami berada. Namun kembali lagi kepada rasa sadar masyarakat akan pentingnya membaca. Menjadi sebuah tantangan bagi kami pengelola perpustakaan jika sarana dan fasilitas sudah mendukung, tetapi keinginan untuk memanfaatkan bahan bacaan masih rendah. Tidak ada yang perlu disalahkan dalam hal ini, yang namanya kesadaran itu munculnya dari hati dan pemikiran masing-masing. Walaupun kita memberikan iming-iming berupa hadiah, pada saat itu saja mungkin keinginan untuk mendekati kami ada. Setelahnya jika tanpa adanya hadiah, entah pergi kemana. Sekali dua kali hal ini boleh dilakukan sebagai perangsang agar masyarakat mau mendekat dan mengetahui keberadaan kita, tapi jika dilakukan secara terus menerus berarti masyarakat kita belum terbuka kesadarannya.

BUKU MASUK WARUNG (BMW)


BUKU MASUK WARUNG.

Matic Pustaka. Mengawali pergerakan di bidang Perpustakaan pada tahun 2018, kami memiliki beberapa program pengembangan perpustakaan khususnya di lingkungan Matic Pustaka. Di antaranya adalah program Buku Masuk Warung (BMW), yaitu sebuah terobosan untuk mendekatkan media buku kepada masyarakat. Awal tercetusnya ide ini berasal dari salah seorang sahabat penggiat literasi/perpustakaan keliling di daerah Sidoharjo Jawa Timur, beliau adalah Mas Fauzi Baim.

Setelah menyantap 2 judul buku yang ditulisnya, tentang kiat-kiat mengelola perpustakaan serta trik-triknya, timbul ide untuk mengadopsi apa yang telah dilakoninya selama beberapa tahun berjalan. Program Buku Masuk Warung akan kami coba kembangkan di Lampung, lebih tepatnya di Kabupaten Pringsewu. Menelusuri jejak langkah mas Fauzi, dengan modal buku-buku seadanya dan menilik kondisi lapangan yang ada, akhirnya kaki ini berjalan menuju sebuah warung kuliner di salah satu Kelurahan kota Kabupaten setelah melakukan negosiasi dengan pemilik warung dan menjelaskan secara singkat tanpa panjang lebar, si empunya warung menyambut baik maksud keinginan kami untuk mengembangkan perpustakaan dengan jalan penitipan buku di warungnya. Konsep yang kami tawarkan sangatlah sederhana, yaitu dengan menyediakan bahan bacaan yang sudah dicatat pendataan secara rapi di buku koleksi, kemudian survey lapangan tentang keramaian pengunjung warung yang nantinya akan menjadi sasaran pembaca buku-buku kami. Sementara pemilik warung hanya menyediakan tempat/wadah untuk meletakkan buku-buku yang kami titipkan.

Salah satu warung penitipan buku Matic Pustaka


Pendataan buku-buku yang dititipkan disertai dengan berita acara penitipan, buku pemustaka/pengunjung, dan buku peminjaman jika ada pengunjug yang akan meminjamnya. Tentunya tidak lupa kami sertakan kolom donasi, apabila ada pengunjung yang memiliki keinginan berdonasi berupa buku maupun media belajar lainnya. Bentuk donasi berupa buku ataupun media belajar lainnya tidak harus baru, buku-buku bekas pun selama masih laik baca, akan kami terima sebagai bentuk jariyah dari para dermawan. Kami dari pengelola sangat membuka hati kepada masyarakat luas berkenaan dengan program pengembangan ini. Tidak ada batasan pergerakan selama masih dalam satu misi mencerdaskan bangsa.

Teknis dari program BMW ini adalah dalam jangka waktu 1-2 bulan kami lakukan kontrol terhadap kemanfaatan koleksi, apakah benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat luas atau hanya biasa saja seperti pada saat belum ada titipan buku. Jika ada tanggapan positif dari masyarakat, tentunya itu menjadi tujuan kami melakukan kegiatan ini. Namun sebaliknya, jika tidak ada perkembangan atau bahkan stagnan seperti sedia kala, itu juga menjadi evaluasi kami, apakah buku-buku yang kami sajikan tidak tepat peruntukannya atau memang benar adanya bahwasanya minat budaya baca masyarakat kurang dimiliki. Karena kita semua ketahui bahwa minat membaca warga Indonesia saat ini sangatlah rendah. Banyak faktor yang mempengaruhi di dalamnya. Di sini tidak akan kami sebutkan satu-persatu faktor tersebut, namun secara garis besar penyebab rendahnya minat baca masyarakat kita adalah kurang tersedianya akses bahan bacaan. Dengan demikian, perlu kita dekatkan, hadirkan, dan sajikan bahan bacaan yang mudah, murah, dan berkualitas. Menjadi tugas kita bersama dalam menyikapi hal ini. 

Salah satunya adalah sinergitas kita semua mulai dari pemangku kebijakan, hingga masyarakat paling awam sekalipun memiliki tugas sesuai porsinya masing-masing.
Langkah awal kami ini akan dilakukan secara berkesinambungan dan penambahan warung-warung baru jika permulaan ini berhasil. Tentunya perlu adanya dukungan dan sosialisasi kepada masyarakat untuk mewujudkan sebuah keberhasilan. Tanpa adanya konstribusi masyarakat, kegiatan ini tidak akan berjalan secara maksimal. Mari kita semua melakukan hal kecil yang positif demi kemajuan dan masa depan anak-anak kita mendatang. Diawali dari diri kita dan keluarga, membudayakan kegiatan membaca sejak usia dini di lingkungan terdekat. (Amd-MP)

DONGENG MALIN KUNDANG

Matic Pustaka. Kebiasaan orang tua saat dalam memberikan cerita/dongeng sebelum menghantarkan anaknya tidur, sudah jarang diterapkan di keluarga. Pada dasarnya anak-anak khususnya di bawah usia lima tahun, sangat berpotensi diberikan pesan moral yang baik melalui cerita-cerita edukatif seperti dongeng, hikayat, al-kisah, serta cerita lainnya yang bisa merangsang imajinasi buah hati kita.
Hal positif inilah yang sekarang sudah semakin tergerus dengan adanya teknologi yang semakin canggih. Namun tidak bisa dipungkiri, hampir semua kita membutuhkannya. Selain untuk memudahkan dalam pekerjaan, juga dirasa bisa menyelesaikan beberapa permasalahan.

Kembali lagi ke dongeng, berikut adalah sepenggal kisah Malin Kundang. Dikutip dari beberapa sumber dan versi. Sebagai bahan referensi untuk menceritakan kisah seorang anak yang memiliki sifat durhaka terhadap ibunya setelah mencapai puncak kejayaan/kekayaannya. 

Malin Kundang. DONGENG MALIN KUNDANG
======================================


Malin Kundang anak yang durhaka


Suatu waktu, hiduplah sebuah keluarga nelayan di pesisir pantai wilayah Sumatera. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak laki-laki yang diberi nama Malin Kundang. Karena kondisi keuangan keluarga memprihatinkan, sang ayah memutuskan untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan mengarungi lautan yang luas.

Malin Kundang

Maka tinggallah si Malin dan ibunya di gubug mereka. Seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan bahkan sudah 1 tahun lebih lamanya, ayah Malin tidak juga kembali ke kampung halamannya. Sehingga ibunya harus menggantikan posisi ayah Malin untuk mencari nafkah. 

Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas dilengannya dan tidak bisa hilang.

Setelah beranjak dewasa, Malin Kundang merasa kasihan dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Ia berpikir untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali ke kampung halaman, ia sudah menjadi seorang yang kaya raya. Malin tertarik dengan ajakan seorang nakhoda kapal dagang yang dulunya miskin sekarang sudah menjadi seorang yang kaya raya.

Malin kundang mengutarakan maksudnya kepada ibunya. Ibunya semula kurang setuju dengan maksud Malin Kundang, tetapi karena Malin terus mendesak, Ibu Malin Kundang akhirnya menyetujuinya walau dengan berat hati. 

Setelah mempersiapkan bekal dan perlengkapan secukupnya, Malin segera menuju ke dermaga dengan diantar oleh ibunya. “Anakku, jika engkau sudah berhasil dan menjadi orang yang berkecukupan, jangan kau lupa dengan ibumu dan kampung halamannu ini, nak”, ujar Ibu Malin Kundang sambil berlinang air mata.

Kapal yang dinaiki Malin semakin lama semakin jauh dengan diiringi lambaian tangan Ibu Malin Kundang. Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman. 

Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. 

Malin Kundang sangat beruntung dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut, karena ketika peristiwa itu terjadi, Malin segera bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu.

Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Sesampainya di desa tersebut, Malin Kundang ditolong oleh masyarakat di desa tersebut setelah sebelumnya menceritakan kejadian yang menimpanya. 

Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.

Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang. Ibu Malin Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin Kundang setiap hari pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya.

Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran dengan kapal yang besar dan indah disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin Kundang yang setiap hari menunggui anaknya, melihat kapal yang sangat indah itu, masuk ke pelabuhan. Ia melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.

Malin Kundang pun turun dari kapal. Ia disambut oleh ibunya. Setelah cukup dekat, ibunya melihat bekas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. 

“Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?”, katanya sambil memeluk Malin Kundang. 

Tapi apa yang terjadi kemudian? Malin Kundang segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh.

“Wanita tak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku”, kata Malin Kundang pada ibunya. 

Malin Kundang pura-pura tidak mengenali ibunya, karena malu dengan ibunya yang sudah tua dan mengenakan baju compang-camping. 

“Wanita itu ibumu?”, Tanya istri Malin Kundang. 

“Bukan, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan harta ku”, sahut Malin kepada istrinya. 

Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menengadahkan tangannya sambil berkata 

“Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu”. 

Tidak berapa lama kemudian angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang.

Pasebu menjadi sasaran melapak Pustaka Matic Perpustakaan Keliling

Matic Pustaka. Pasebu, tempat baru melapak Pustaka MaticNiat untuk terus menjajakan buku bacaan kepada masyarakat tetap dilakoni selagi punya waktu luang. Bersama dengan teman sekerjanya, kang Amin sapaan akrabnya, membuka lapak baca gratis di arena bermain anak-anak dan masyarakat Pekon Pagelaran dalam kegiatan rutin mingguan Pasebu (Pasar Seni dan Budaya). Ide ini berawal dari informasi salah seorang panitia Pasebu, bahwa di tempatnya sering diadakan kegiatan semacam malam mingguan bagi warga sekitar. Seperti nonton bareng laga sepak bola, kegiatan mewarnai bagi anak-anak, bazaar kuliner masyarakat, atau kegiatan penyuluhan/sosialisasi/kunjungan bagi pihak yang berkepentingan.

Pasebu menjadi sasaran melapak Pustaka Matic
Sore itu, Sabtu malam Minggu merupakan waktu pertama melapak Pustaka Matic di tengah-tengah kegiatan Pasebu. Bermodal alas banner bekas serta beberapa eksemplar buku bacaan sebagai amunisi, dengan harapan ada masyarakat yang mau mendekat dan membuka buku yang telah digelar. Dan pada akhirnya informasi di dalam buku bisa tersampaikan kepada masyarakat yang membacanya.

Warga masyarakat selain menikmati jajanan tradisional di Pasebu, bisa juga hanya melihat-lihat suasana atau sekadar mengambil view photo di lokasi Pasebu.

Wahana permainan dan kuliner


Kembali, FPPTI wilayah Lampung terima Hibah Buku dari The Asia Foundation (TAF) 2019

Matic Pustaka. Hibah buku TAF untuk FPPTI Lampung. Seperti pada tahun 2017 dan 2018, pada kesempatan ini  di tahun 2019 Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) wilayah Lampung menerima hibah buku dari TAF. Buku-buku hibah dari TAF memuat hampir semua disiplin ilmu yang diperuntukkan pemanfaatannya kepada perpustakaan-perpustakaan perguruan tinggi, sebagai bahan referensi/literature pendidikan dan penelitian. Kepala UPT Perpustakaan Unila sekaligus Ketua FPPTI wilayah Lampung, DR. Eng. Mardiana, S.T., M.T mengatakan, "pada tahun 2019 ini, jumlah judul buku yang diterima FPPTI wilayah Lampung adalah 180 judul, yang terdiri atas 1730 eksemplar. Sesuai dengan program kerja yang dimiliki FPPTI wilayah Lampung, buku-buku tersebut akan dibagikan secara cuma-cuma kepada perguruan tinggi yang terdaftar sebagai anggota. Adapun dari FPPTI wilayah Lampung sudah memiliki keanggotaan berjumlah 23 perguruan tinggi negeri dan swasta. Jumlah tersebut belum semua perguruan tinggi  yang ada di Lampung terdaftar sebagai anggota forum."
Di antara perguruan tinggi yang hadir dan terdaftar sebagai anggota aktif adalah Unila, UIN Raden Intan, Itera, Polinela, Poltekkes, Unimal, IBI Darmajaya, UBL, UM Metro, UTI, UMPRI, UAP, Akper Dharma Wacana, Akper Bunda Delima, UML, Akbid Panca Bakti.

Briefing tim identifikasi buku hibah TAF 2019

Secara teknis, pengelolaan buku hibah TAF yang dilakukan FPPTI Lampung ada beberapa proses/tahapan, yakni:

1. Identifikasi bahan pustaka. Proses ini meliputi pencocokan data yang ada dengan pengecekan fisik buku yang diterima. Dalam proses identifikasi buku, pelaksanaan dilakukan setelah selesai dengan kegiatan pelatihan Augmented Reality for Library (ARLib) lanjutan, yang dilaksanakan pada hari Selasa, 05 November 2019.

Peserta pelatihan ARLib (pengaplikasian poster promosi perpus)

2. Inventaris kebutuhan dari masing-masing perguruan tinggi anggota Forum. Karena tidak semua perguruan tinggi yang menjadi anggota membutuhkan jenis buku dari data yang ada. Dikhawatirkan nanti setelah buku dibagikan, tanpa adanya konfirmasi dari masing-masing anggota, buku tidak dimanfaatkan (mubazir),karena tidak sesuai dengan disiplin ilmunya.

Proses pembongkaran buku hibah

3. Mendata jenis buku yang dibutuhkan oleh masing-masing perguruan tinggi dengan jumlah dan jenis buku yang ada.

Ceklis data judul buku dan jumlah eksemplar


4. Proses pendistribusian buku hibah ke masing-masing anggota berdasarkan data usulan dan diterapkan skala prioritas untuk anggota forum yang aktif dalam kegiatan sesuai program kerja tahun 2019 FPPTI wilayah Lampung.

Diharapkan semua jenis buku yang diberikan oleh The Asia Foundation (TAF) melalui FPPTI wilayah Lampung, bisa dimanfaatkan untuk semua masyarakat, khususnya di dunia akademisi dan umumnya masyarakat secara luas. (Amd-MP)

Perpustakaan Komunitas di Pringsewu turut ambil bagian dalam pencanangan Kabupaten Literasi

Matic Pustaka.  Perpustakaan Komunitas di Pringsewu dukung pencanangan Kabupaten Literasi


Penyerahan simbolis hibah buku oleh bunda Literasi Pringsewu

Sejumlah pengelola Perpustakaan Komunitas yang ada di Kabupaten Pringsewu mengikuti upacara peringatan hari Sumpah Pemuda ke-91, Senin 28 Oktober 2019. Kegiatan upacara dilaksanakan di lapangan Pemda Kabupaten Pringsewu, bertindak sebagai inspektur upacara Bapak Wakil Bupati Pringsewu DR. H. Fauzi, S. Kom., Akt.

Dalam amanah upacara, beliau membacakan pesan dari Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia. Dalam isi surat tersebut, "pemuda merupakan tulang punggung negara. Sudah menjadi hal penting jika penanaman pekerti dan pembekalan pendidikan harus diberikan." Bersamaan dengan kegiatan upacara peringatan hari Sumpah Pemuda di Kabupaten Pringsewu, turut dideklarasikan Kabupaten Pringsewu sebagai Kabupaten Literasi serta pengukuhan bunda Literasi Kabupaten Pringsewu, Ibu Hj. Nurrochmah Sujadi oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Lampung. Semoga bisa amanah dan membawa perubahan positif/kemajuan khususnya dalam dunia pendidikan di Kabupaten Pringsewu.

Di sela-sela kegiatan pencanangan Kabupaten Pringsewu sebagai Kabupaten Literasi, hadir pula beberapa Perpustakaan Komunitas yang ada di Kabupaten Pringsewu. Dari seluruh komunitas yang ada, yang hadir di antaranya adalah Perpustakaan Matic, Gerobak Pustaka, Komunitas Baca Citra Lestari, Sewu Buku, Perpustakaan Anak, Perpustakaan Pon-pes, Pojok Baca Pemda, Pojok Baca Pangonan, dan Perpustakaan Pekon/Kelurahan. Mereka diundang dalam rangka penerimaan hibah buku secara simbolis yang berasal dari proses pengumpulan sejak bulan Agustus 2019 oleh panitia pencanangan. Karena dinilai mereka para pelaku literasi di lapangan mampu menyebarluaskan informasi positif yang terkandung dalam isi buku, baik secara langsung maupun secara bertahap. Sinergitas antar semua lini sangat diharapkan demi terwujudnya Pringsewu sebagai Kabupaten Literasi. (Amd-MP)


Semiloka Kepustakawanan Nasional V dan SNIPer 2019

Matic Pustaka. Semiloka Kepustakawanan Nasional V dan SNIPer 2019

Hotel Novotel Bandarlampung, 02-04 Oktober 2019.

Pustakawan dan Perpustakaan Berinovasi:
From Smart Librarian to Smart Society

Semiloka Nasional Kepustakawanan merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh organisasi pustakawan yaitu Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) di seluruh Indonesia. Baik dilakukan oleh pengurus wilayah, maupun diselenggarakan oleh pengurus pusat. Dalam kesempatan ini, di tahun 2019 yang menjadi penyelenggara kegiatan Semiloka Nasional Kepustakawanan, Lampung menjadi host/tuan rumah kegiatan. Peserta yang hadir pada kegiatan Semiloka Kepustakawanan berjumlah lebih dari 100 orang yang berasal dari perwakilan Perguruan Tinggi Negeri dan swasta di seluruh Indonesia. Sebagai salah satu anggota Forum, Perpustakaan Universitas Aisyah Pringsewu (UAP) turut serta dalam menyukseskan kegiatan dimaksud. Ada dua pilihan yang bisa diikuti oleh setiap peserta Semiloka, yang pertama menjadi presenter Call for Paper (CfP), dan pilihan yang kedua menjadi peserta aktif dalam kegiatan Semiloka.

Peserta Semiloka Kepustakawanan 2019


Selain dari kegiatan Semiloka Kepustakawanan, disela-sela kegiatan ini dilakukan penandatanganan naskah kerja sama (MoU) antara Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia yang terdaftar sebagai anggota FPPTI dengan Perpustakaan Nasional RI. Adapun tujuan dari MoU ini di antaranya adalah menyebarluaskan informasi/koleksi yang dimiliki oleh Perpustakaan Nasional RI, baik koleksi tercetak maupun elektronik. Selain itu, tujuan lain dari isi MoU adalah pemanfaatan akses jurnal yang dilanggan oleh Perpustakaan RI sebagai tambahan sumber literasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, serta promosi jasa perpustakaan. Sebagai salah satu peserta penandatangan naskah kerja sama, Universitas Aisyah Pringsewu hadir dan mengikuti prosesi penandatanganan MoU yang langsung dihadiri oleh rektor Universitas Aisyah Pringsewu, bapak Hardono, M.Kep.


Penandatanganan MoU dengan Perpustakaan Nasional RI


Tujuan mengikuti kegiatan Semiloka Nasional Kepustakawanan:
  1. Meningkatkan wawasan dan menambah ilmu/pengalaman dibidang ilmu perpustakaan dan informasi;
  2. Memperbanyak kenalan/relasi antar sesama peserta, khususnya para pengelola perpustakaan di seluruh Indonesia yang menjadi peserta kegiatan
  3. Turut serta mengembangkan organisasi profesi pustakawan;
  4. Networking, Sharing, Caring yang menjadi motto FPPTI
  5. Mendapatkan akses ke Perpustakaan Nasional RI melalui penandatanganan naskah kerja sama (MoU).


Bersama Rektor Universitas Aisyah Pringsewu. Hardono, M.Kep

Materi dan Narasumber:
  1. Kebijakan Ristekdikti tentang Pengembangan Karier Pustakawan Peguruan Tinggi di Indonesia (Prof. dr. Ali Gufron Mukti, Ph.D)
  2. “Evolving Role of Academic Libraries: Supporting the University and Beyond” (Ho Wei Jiang- Bussines Development Director APAC)
  3. Library of Congress Strtaegic Plan in Building Smart Society (Carol L. Mitchell, Ph.D Field Director U.S Library of Congress for Indonesia)
  4. Strategi Komunikasi Perpustakaan dalam Mewujudkan Smart Society (Prof. Dr. Karomani, M.Si-Universitas Lampung)
  5. Peran Perilaku Informasi dalam Mewujudkan Smart Society (Rahmi, Ph. D-Universitas Indonesia)
  6. Pustakawan dan Perpustakaan Berinovasi: “From Smart Librarian to Smart Society” (Drs. Syarif Bando, M.M-Kepala Perpustakaan Nasional RI)
  7. Smart Repository Berbasis Aplikasi VIVO (Duraspace) untuk Perpustakaan Perguruan Tinggi (Dwi Fajar Saputra, S.Sos., M.M)
  8. Workshop dan Board Game sebagai media pembelajaran Literasi Informasi (Dhama Gustiar Baskoro, S.S., M.Pd- Universitas Bina Nusantara) 
(Amd-MP)


Diberdayakan oleh Blogger.
 
Support : BERANDA PRINGSEWU | Johny Template | SEWUJOS
Copyright © 2016. MATIC PUSTAKA - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger