NEW Literacy

DONGENG HANSEL DAN GRETEL


Matic Pustaka. Dongeng Hansel dan Gretel


Hansel dan Gretel

DONGENG HANSEL DAN GRETEL

Pada zaman dahulu di sebuah desa hiduplah sebuah keluarga bahagia. Mereka mempunyai dua orang anak yang manis, namanya Hansel dan Gretel. Suatu ketika Ibu tercinta meninggal karena sakit. Sejak kematian sang Ibu, mereka selalu bersedih sepanjang hari.

Agar mereka tidak bersedih, kemudian Ayah mengambil Ibu baru untuk menghibur mereka. Ternyata Ibu baru ini sangat jahat dan memperlakukan mereka dengan buruk. Dari pagi hingga petang mereka disuruh terus bekerja dan hanya diberi makan satu kali. Musim kemarau pun tiba, dan mereka tidak mempunyai makanan apa-apa. Sang Ibu menyuruh anak-anak untuk dibawa ke hutan dan meninggalkannya di sana.

Ayah sangat terkejut mendengarnya. ”Bicara apa kau, apa kau ingin anak-anak mati?“
”Kau ini memang jahat, kalau kita tidak melakukannya, kita semua akan mati!”
Sementara itu dari balik kamar , Hansel dan Gretel mendengarkan pembicaraan mereka. Mereka ketakutan dan Gretel pun menangis.

Akhirnya Ayah tidak bisa berbuat apa-apa karena istrinya terus mendesaknya.
“Ah… apa kita akan mati di hutan ?! “
” Ssst.., aku punya ide bagus, ” ucap Hansel. Lalu ia keluar rumah dan mengumpulkan batu-batu kecil putih yang bila terkena cahaya bulan, akan bersinar. Pada esok paginya dengan berteriak keras, Ibunya membangunkan Hansel dan Gretel. Sebelum berangkat ia memberikan sepotong roti kepada mereka. Setelah itu semua berangkat menuju hutan. Sambil berjalan Hansel membuang batu kecil putih satu per satu yang ada dalam kantongnya. Karena berjalan sambil menoleh ke belakang, Ayah menjadi curiga.
”Sedang apa, Hansel? “
”Aku sedang memandang kucing yang ada di atas rumah,” jawab Hansel berbohong. Lalu tibalah mereka di tengah hutan. Ayah dan Ibunya pergi ke hutan yang lebih jauh lagi untuk menebang kayu dan meninggalkan mereka.

Rasa sedihpun berganti gembira, setelah di tengah hutan Hansel menemukan seekor kupu-kupu dan Gretel membuat kalung dari bunga. Mereka sangat gembira karena bisa bermain-main bersama teman baru mereka seperti kelinci, bajing/tupai, dan burung-burung kecil. Tanpa terasa waktu berlalu, mataharipun mulai tenggelam dan hari mulai gelap. Suara burung-burung yang indah kini berganti dengan suara angin yang berdesir. Gretel menangis tersedu-sedu karena takut. Hansel berkata menenangkan, “Jangan menangis, jika cahaya bulan muncul, kita pasti akan pulang dengan selamat “.

Tak lama kemudian, dari sela-sela pohon muncullah cahaya bulan yang bersinar dengan terang. Hansel segera mengajak Gretel untuk pulang ke rumah.
Hansel memegang tangan Gretel dan menyusuri jalan di hutan tanpa ragu-ragu.
”Kak, bagaimana bisa berjalan tanpa bingung di hutan yang gelap seperti ini?”
“Oh… batu kecil putih yang kujatuhkan ketika kita datang, bersinar karena terkena sinar bulan dan itu akan menolong kita pulang ke rumah.”

Tibalah mereka di rumah, sang Ibu heran melihatnya dan mencari tahu bagaimana mereka bisa sampai di rumah dengan mudah. Ketika ia membuka pintu, ia melihat batu kecil putih yang bersinar. Agar mereka tidak bisa mengumpulkan batu putih itu lagi, Ibu mengunci pintu kamar mereka. Hansel dan Gretel menjadi panik karenanya. Sebelum tidur mereka berdoa pada Tuhan, meminta perlindungan.

Keesokan harinya seperti kemarin, Ibu membangunkan mereka dan membawa mereka ke hutan. Hansel tidak kehabisan akal. Dengan terpaksa ia mencuil-cuil potongan roti dan menjatuhkannya di jalan sambil berjalan.
Tapi malang, jejak yang sudah dIbuatnya susah payah dimakan oleh burung-burung kecil. Sampailah mereka di dalam hutan. Kembali Ayah dan Ibunya meninggalkan mereka dan masuk ke hutan yang lebih jauh.

Merekapun bermain-main dengan binatang-binatang di dalam hutan. Akhirnya malampun tiba. Ketika cahaya bulan mulai bersinar mereka beranjak pulang. Dengan susah payah dicarinya potongan-potongan roti sebagai petunjuk jalan untuk pulang ke rumah.
”Kak, apa yang telah terjadi dengan potongan-potongan roti itu ?” teriak Gretel cemas. ”Mungkin dimakan oleh burung -burung kecil “ ”Uhh.., kalau begitu kita tidak bisa pulang ke rumah.” Di dalam hutan bergema suara lolongan keras. Mereka berdua amat ketakutan. “Kak, aku takut, apa kita akan mati!” Gretel mulai menangis.
”Jangan khawatir dik, Ibu yang ada di surga pasti menolong kita.”

Karena lelah, mereka akhirnya tertidur dengan pulas di bawah pohon. Cahaya matahari pun mulai bersinar dan mengenai wajah mereka. Hansel dan Gretel terbangun dan disambut suara kicauan burung. Tiba-tiba mereka mencium bau masakan yang lezat. Segera mereka berlari ke arah datangnya bau lezat itu. Seperti mimpi mereka melihat rumah kue, atapnya terbuat dari tart, pintunya dari coklat, dan dindingnya dari biskuit. Cepat-cepat mereka mendekati rumah itu dan memakannya. Tiba-tiba terdengar suara keras yang bergetar. “Siapa itu, berani memakan rumah kue kesayanganku?”, muncullah seorang nenek sihir tua dengan wajah menyeramkan serta mata merah yang bersinar, lalu menangkap mereka berdua. ”Hi… Hi…. Hi…. anak-anak yang lezat, sebagai hukuman karena telah memakan rumput kue kesukaanku, aku akan memakan kalian.” Dengan kasar nenek sihir itu menyeret Hansel masuk ke dalam penjara.

Setelah itu ia berkata kepada Gretel, “Mula-mula aku akan menggemukkan anak laki-laki itu, lalu aku akan memakannya.“ “Sekarang kau buat makanan yang enak biar makannya banyak! “ Nenek sihir itu sudah tua sekali dan matanya mulai rabun. Pada saat itu Hansel dan Gretel saling berpegangan tangan memberi semangat supaya mereka tabah. ”Tabahlah Gretel, Ibu yang ada di surga pasti melindungi kita “.

Suatu hari nenek mendekati penjara Hansel untuk melihat apakah tubuh Hansel sudah menjadi gemuk atau belum.
“Aku lapar, sudah seberapa gemuk tubuhmu, ayo ulurkan tanganmu! “
Hansel yang pintar tidak kehilangan akal, ia mengetahui kalau mata nenek sudah rabun segera dikeluarkannya tulang sisa makanan kepada nenek yang rabun lalu nenek memegangnya. Betapa kecewanya nenek karena sedikitpun Hansel tidak bertambah gemuk. Karena kecewa lalu ia bermaksud untuk memakan Gretel. Kemudian Gretel disuruh membakar roti. Selagi Gretel menyalakan api di tungku, si nenek mencoba mendorongnya ke nyala api. Untunglah Gretel mengetahui maksud nenek, cepat-cepat ia berbalik pergi ke depan tungku.

“Nek, aku tidak bisa membuka tutup tungku ini.” Nenek sihir tidak sadar kalau ia sedang diperdaya Gretel dan ia membuka tutup tungku.
Tanpa membuang kesempatan, Gretel mendorong nenek ke tungku. “Ahh… tolonggg…. panassss!” teriak nenek kesakitan. Gretel tidak memperdulikan teriakan nenek malah dengan cepat ia menutup pintu tungku, lalu berlari ke arah penjara untuk menolong Hansel.
“Gretel, kau berhasil. Ibu yang di surga telah melindungi kita.” Karena bahagia mereka berpelukan. Ketika akan pergi dari rumah kue tanpa sengaja mereka menemukan banyak harta karun. Setelah itu mereka keluar rumah, tetapi malang jalan itu terpotong oleh sungai besar. 

Mereka menjadi bingung. Saat itu entah dari mana datangnya tiba-tiba muncul seekor angsa cantik. ”Ayo, naiklah ke punggungku, ” ucap angsa itu ramah. Satu per satu angsa itu mengantarkan mereka menyeberang sungai. Setelah sampai, angsa itu menunjukkan jalan bagi mereka berdua dari atas langit. Sampailah mereka di batas hutan. Tanpa mereka ketahui sebenarnya angsa itu adalah Ibu mereka yang ada di surga. Angsa itu kemudian menghilang. Setelah itu muncullah Ayah mereka yang sangat cemas.
“Anak-anakku tersayang, maafkanlah Ayah. Ayah tidak akan meninggalkan kalian lagi". Lalu Ayah menceritakan kepada mereka bahwa Ibu tiri yang jahat sudah meninggal karena sakit. Akhirnya mereka pun hidup bahagia selamanya. Sekian

Matic Pustaka Pringsewu terima ratusan buku hibah dari UPT Perpustakaan Unila

Penyerahan buku oleh ketua panitia Hibah, Bapak Karjoso, S.Sos

Matic Pustaka Pringsewu terima ratusan buku  hibah dari UPT Perpustakaan Unila

Matic Pustaka. UPT Perpustakaan Universitas Lampung menghibahkan puluhan ribu eksemplar buku ke beberapa instansi/lembaga dan komunitas se-Lampung. Ini merupakan salah satu upaya pemerataan penyebaran koleksi yang dimiliki oleh pihak Perpustakaan Unila karena kelebihan koleksi buku tercetak. Para penerima hibah buku sangat antusias dalam menyambut kegiatan ini. Jumlah penerima Hibah buku tercatat ada 42 titik yang tersebar di seluruh wilayah Provinsi Lampung, meliputi Perpustakaan Perguruan Tinggi, Perpustakaan Sekolah, Taman Baca, dan Perpustakaan Komunitas. Salah satu penerima hibah buku adalah dari Komunitas Baca Matic Pustaka Pringsewu.

Ketua penyelenggara hibah buku Unila Karjoso S. Sos, menyampaiakan kepada para penerima hibah buku, “semoga buku-buku yang sudah dihibahkan kepada seluruh penerima bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh masyarakat yang membutuhkan.”

Hal senada juga disampaikan oleh Kepala UPT Perpustakaan Unila DR. Eng. Mardiana, M.T, “bahwa kegiatan ini merupakan Barang Milik Negara (BMN) yang dimiliki oleh UPT Perpustakaan Unila untuk dihibahkan kepada masyarakat di wilayah Lampung yang membutuhkan bahan bacaan, semoga bisa dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat penerima hibah.” Jumlah buku yg diterima oleh masing-masing instansi berbeda, tergantung kebutuhan dan jumlah yg diusulkan.

Ucapan syukur terucap oleh ketua Komunitas Baca Matic Pustaka, Aminuddin. Ia mengatakan, "dengan adanya hibah buku ini, selaku ketua komunitas mewakili masyarakat Pringsewu sangat berterima kasih kepada UPT Perpustakaan Unila, semoga bisa menjadi tambahan semangat dalam menyebarluaskan informasi melalui buku,  khususnya di Kabupaten Pringsewu dan tentunya berharap juga, semoga banyak masyarakat yang memanfaatkannya" (Amd-MP)

DONGENG IKAN EMAS AJAIB

Matic Pustaka. Dongeng Ikan Emas Ajaib


Pada zaman dahulu kala, di sebuah pulau bernama Buyan, tinggalah sepasang kakek dan nenek yang sangat miskin. Mata pencaharian si kakek adalah mencari ikan di laut. Meski hampir setiap hari kakek pergi menjala ikan, namun hasil yang didapat hanya cukup untuk makan sehari-hari saja. Suatu hari ketika si kakek sedang menjala ikan, tiba-tiba jalanya terasa sangat berat. Seperti ada ikan raksasa yang terperangkap di dalamnya.
“Ah, pasti ikan yang sangat besar,” pikir si kakek.

Dengan sekuat tenaga si kakek menarik jalanya. Namun ternyata tidak ada apapun kecuali seekor ikan kecil yang tersangkut di jalanya. Rupanya ikan kecil itu bukan ikan biasa, badannya berkilau seperti emas dan bisa berbicara seperti layaknya manusia.


“Kakek, tolong lepaskan aku. Aku akan mengabulkan semua permintaanmu!” kata si ikan emas.
Si kakek berpikir sejenak, lalu katanya, “aku tidak memerlukan apapun darimu, tapi aku akan melepaskanmu. Pergilah!”.
Kakek melepaskan ikan emas itu kembali ke laut, lalu dia pun kembali pulang. Sesampainya di rumah, nenek menanyakan hasil tangkapan kakek.


“Hari ini aku hanya mendapatkan satu ekor ikan emas, dan itupun sudah aku lepas kembali,” kata kakek, “aku yakin kalau itu adalah ikan ajaib, karena dia bisa berbicara. Katanya dia akan memberiku imbalan jika aku mau melepaskannya.”



“Lalu apa yang kau minta,” tanya nenek.
“Tidak ada,” kata kakek.
“Oh, alangkah bodohnya!” seru nenek. “Setidaknya kau bisa meminta roti untuk kita makan. Pergilah dan minta padanya!” Maka dengan segan kakek kembali ke tepi pantai dan berseru:

Wahai ikan emas ajaib, datanglah kemari...
Kabulkan keinginan kami!

Tiba-tiba si ikan emas muncul di permukaan laut. “Apa yang kau inginkan, Kek?” katanya.
“Istriku marah padaku, berikan aku roti untuk makan malam, maka dia akan memaafkanku!” pinta si kakek.
“Pulanglah! Aku telah mengirimkan roti yang banyak ke rumahmu.” kata si ikan.
Maka pulanglah si kakek. Setibanya di rumah, didapatinya meja makan telah penuh dengan roti.
Tapi istrinya masih tampak marah padanya, katanya:
“Kita telah punya banyak roti, tapi wastafel kita rusak, aku tidak bisa mencuci piring. Pergilah kembali ke laut, dan mintalah ikan ajaib memberikan kita wastafel yang baru!” kata nenek.
Terpaksa si kakek kembali ke tepi laut dan berseru:

Wahai ikan emas ajaib, datanglah kemari...
Kabulkan keinginan kami!

“ups!” ikan emas muncul, “Apa lagi yang kau inginkan, kek?”
“Nenek menyuruhku memintamu agar memberikan kami wastafel yang baru,” pinta kakek.
“Baiklah,” kata ikan. “Kau boleh memiliki wastafel baru juga.”
Si kakek pun kembali pulang. Belum lagi menginjak halaman, si nenek sudah menghadangnya. “Pergilah lagi! Mintalah pada si ikan emas untuk membuatkan kita sebuah rumah baru. Kita tidak bisa tinggal di sini terus, rumah ini sudah hampir roboh.”
Maka si kakek pun kembali ke tepi laut dan berseru:

Wahai ikan emas ajaib, datanglah kemari...
Kabulkan keinginan kami!

Dalam sekejap ikan emas itu muncul di hadapan si kakek, “apa yang kau inginkan lagi, kakek?”
“Buatkanlah kami rumah baru!” pinta kakek, “istriku sangat marah, dia tidak ingin tinggal di rumah kami yang lama karena rumah itu sudah hampir roboh.”
“Tenanglah kek! Pulanglah! Keinginanmu sudah kukabulkan.”
Kakek pun pulang. Sesampainya di rumah, dilihatnya bahwa rumahnya telah menjadi baru. Rumah yang indah dan terbuat dari kayu yang kuat. Dan di depan pintu rumah itu, nenek sedang menunggunya dengan wajah yang tampak jauh lebih marah dari sebelumnya.
“Dasar kakek bodoh! Jangan kira aku akan merasa puas hanya dengan membuatkanku rumah baru ini. Pergilah kembali, dan mintalah pada ikan emas itu bahwa aku tidak mau menjadi istri nelayan. Aku ingin menjadi nyonya bangsawan. Sehingga orang lain akan menuruti keinginanku dan menghormatiku!”
Untuk kesekian kalinya, si kakek kembali ke tepi laut dan berseru:

Wahai ikan emas ajaib, datanglah kemari...
Kabulkan keinginan kami!

Dalam sekejap ikan emas itu muncul di hadapan si kakek, “apa yang kau inginkan lagi, kakek?”
“Istriku tidak bisa membuatku tenang. Dia bahkan semakin marah. Katanya dia sudah lelah menjadi istri nelayan dan ingin menjadi nyonya bangsawan” pinta kakek
“Baiklah. Pulanglah! Keinginanmu sudah dikabulkan!” kata ikan emas.
Alangkah terkejutnya si kakek ketika kembali ternyata kini rumahnya telah berubah menjadi sebuah rumah yang megah. Terbuat dari batu yang kuat, tiga lantai tingginya, dengan banyak sekali pelayan di dalamnya. Si kakek melihat istrinya sedang duduk di sebuah kursi tinggi sibuk memberi perintah kepada para pelayan.
“halo istriku,” sapa si kakek.
“Betapa tidak sopannya,” kata si nenek. “Berani sekali kau mengaku sebagai suamiku. Pelayan! Bawa dia ke gudang dan beri dia 40 cambukan!”
Segera saja beberapa pelayan menyeret si kakek ke gudang dan mencambuknya sampai si kakek hampir tidak bisa berdiri. Hari berikutnya istrinya memerintahkan kakek untuk bekerja sebagai tukang kebun. Tugasnya adalah menyapu halaman dan merawat kebun. “Dasar perempuan jahat!” pikir si kakek. “Aku sudah memberikan dia keberuntungan tapi dia bahkan tidak mau mengakuiku sebagai suaminya.”
Lama kelamaan si nenek bosan menjadi nyonya bangsawan, maka dia kembali memanggil si kakek: “Hai lelaki tua, pergilah kembali kepada ikan emasmu dan katakan ini padanya: aku tidak mau lagi menjadi nyonya bangsawan, aku mau menjadi ratu.”
Maka kembalilah si kakek ke tepi laut dan berseru”

Wahai ikan emas ajaib, datanglah kemari...
Kabulkan keinginan kami!

Dalam sekejap ikan emas itu muncul di hadapan si kakek, “apa yang kau inginkan lagi, kakek?”
“Istriku semakin keterlaluan. Dia tidak ingin lagi menjadi nyonya bangsawan, tapi ingin menjadi ratu.”
“Baiklah. Pulanglah! Keinginanmu sudah dikabulkan!” kata ikan emas.
Sesampainya kakek di tempat dulu rumahnya berdiri, kini tampak olehnya sebuah istana beratap emas dengan para penjaga berlalu lalang. Istrinya yang kini berpakainan layaknya seorang ratu berdiri di balkon dikelilingi para jendral dan gubernur. Dan begitu dia mengangkat tangannya, drum akan berbunyi diiringi musik dan para tentara akan bersorak sorai.
Setelah sekian lama, si nenek kembali bosan menjadi seorang ratu. Maka dia memerintahkan para jendral untuk menemukan si kakek dan membawanya ke hadapannya. Seluruh istana sibuk mencari si kakek. Akhirnya mereka menemukan kakek di kebun dan membawanya menghadap ratu.
“Dengar lelaki tua! Kau harus pergi menemui ikan emasmu! Katakan padanya bahwa aku tidak mau lagi menjadi ratu. Aku mau menjadi dewi laut sehingga semua laut dan ikan-ikan di seluruh dunia menuruti perintahku.”
Kakek terkejut mendengar permintaan istrinya, dia mencoba menolaknya. Tapi apa daya nyawanya adalah taruhannya, maka dia terpaksa kembali ke tepi laut dan berseru:

Wahai ikan emas ajaib, datanglah kemari...
Kabulkan keinginan kami!

Kali ini si ikan emas tidak muncul di hadapannya. Kakek mencoba memanggil lagi, namun si ikan emas tetap tidak mau muncul di hadapannya. Dia mencoba memanggil untuk ketiga kalinya. Tiba-tiba laut mulai bergolak dan bergemuruh. Dan ketika mulai mereda muncullah si ikan emas, “apa yang kau inginkan lagi, kakek?”
“Istriku benar-benar telah menjadi gila,” kata kakek. “Dia tidak mau lagi menjadi ratu tapi ingin menjadi dewi laut yang bisa mengatur lautan dan memerintah semua ikan.”
Si ikan emas terdiam dan tanpa mengatakan apapun dia kembali menghilang ke dalam laut. Si kakek pun terpaksa kembali pulang. Dia hampir tidak percaya pada penglihatannya ketika menyadari bahwa istana yang megah dan semua isinya telah hilang. Kini di tempat itu, berdiri sebuah gubuk reot yang dulu ditinggalinya. Dan di dalamnya duduklah si nenek dengan pakaiannya yang compang-camping. Mereka kembali hidup seperti dulu. Kakek kembali melaut. Namun seberapa kerasnya pun kakek bekerja, hasil yang didapat hanya cukup untuk makan sehari-hari saja.

DONGENG TELUR EMAS

Matic Pustaka. Dongeng Telur Emas






Di suatu desa ada sepasang suami istri serakah yang membeli seekor ayam yang aneh. Ketika sampai di rumah mereka kehabisan uang. Tiba-tiba ayam itu mengeluarkan sebutir telur emas. Mereka berdua sangat girang lalu menjual telur itu. Kini setiap hari mereka selalu hidup dengan mewah, sehingga uangnya cepat menjadi habis.
Di rumah sudah tak ada persediaan roti sekerat pun. Dan lagi, ayam itu sekarang sudah tidak mengeluarkan telur emas.
"Kalau begitu tak salah lagi, pasti di perut ini ada telur emas, yuk kita potong perutnya," kata sang istri.

"Wah, kau cerdik sekali!" kata sang suami menyetujui usul istrinya.
Si istri memegangi kepalanya, dan si suami mulai menyembelih ayam itu dengan pisau dapur.

"Hei kau, mulai sekarang kita akan hidup enak setiap hari," kata sang suami.
Setelah suami istri memotong perut ayam itu, mereka mencari telur dengan perasaan harap-harap gembira. Tetapi tak ada satupun telur dalam perut ayam itu. Kini, ayam mereka mati, dan tak bisa bertelur lagi.

Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng Telur Emas ini adalah:

Kalau terlalu serakah, akhirnya akan kehilangan semuanya.

Ramadhan Ceria

Matic Pustaka.



Milikilah tekad dan semangat seperti Raden Mas Mangkudirija


Matic Pustaka. 

Resensi buku

Oleh    : Aminuddin

Judul   : Cerita Rakyat Lampung
  Raden Mas Mangkudirija dan Bidadari

Penulis : Fauzie Purnomo Sidie



Pada zaman dahulu kala tinggallah seorang pemuda di tanah Jawa, ia masih keturunan raja atau bangsawan dari Padjadjaran. Pemuda itu bernama Raden Mas Mangkudirija. Ia sangat gigih dan memiliki semangat yang tinggi dan senang berpetualang. Hingga pada suatu masa ia ingin merantau ke tanah seberang tepatnya di kampung Gayam yang berada di pulau Sumatera yaitu di ujung Lampung. Konon di kampung Gayam terdapat bidadari yang sering turun ke telaga. Dengan persiapan yang sudah disiapkan secara baik dan matang akhirnya pemuda itu memulai membuat sebuah rakit dan digunakan untuk menyeberangi lautan lepas. Karena bernasib malang di tengah perjalanan dalam berlayar, Raden mengalami kecelakaan di laut. Perahunya diterpa oleh ombak sehingga Raden dan perahunya tenggelam. Akhirnya Raden berusaha menyelamatkan diri dengan berenang semampunya. Di dalam usaha menyelamatkan dirinya, Raden menemukan batu karang kemudian dari kejauhan terlihat rombongan nelayan yang sedang mencari ikan. Akhirnya didekatilah pemuda itu oleh para nelayan dengan memberikan pertolongan, akhirnya Raden dapat terselamatkan oleh para nelayan dan akhirnya ikut bersama nelayan sampai ke daratan.

Sesampainya di daratan Raden memohon izin untuk melanjutkan perjalanannya mencari kampung Gayam. Menurut informasi kampung Gayam tidak terlalu jauh sehingga Raden hanya menyusuri jalan setapak dan sampai di tempat tujuan. Kampung Gayam terletak di kaki gunung Rajabasa yang dikelilingi hutan lebat. Setelah berjalan beberapa waktu, akhirnya sampai juga di Kampung Gayam. Raden disambut baik oleh masyarakat Gayam, hingga Raden dibuatkan gubuk kecil oleh masyarakat setempat. Di sana Raden bertemu dengan Pak Tua penyimbang adat. Pada saat itu akan ada acara adat di daerahnya, Raden diminta mencari daun pegagan untuk keperluan acara adat. Raden segera berangkat mencarinya namun Raden memilih daun pegagan yang halus, tidak dimakan ulat karena kelak telur-telur ulat akan menjadi kunang-kunang indah pada malam hari akan bercahaya. Hari-hari berikutnya Raden sering datang ke pinggir telaga, konon ceritanya sering ada bidadari yang turun di telaga tersebut.

Suatu hari Raden hendak memetik daun pegagan di pinggir telaga, tiba-tiba Raden dikejutkan oleh sesosok wanita cantik yang turun dari kayangan. Rupanya inilah bidadari yang selama ini ditunggu-tunggu oleh Raden. Raden tidak bergerak sedikit pun, bahkan raden tidak berani bertanya kepada sosok bidadari tersebut. Lalu bidadari itu mendekati Raden dan bertanya, "Hai pemuda yang baik, siapakah namamu? Namaku Sri Kemuning" Tanya bidadari itu. Namaku Raden Mas Mangkudirija, aku memang sangat ingin bertemu dengan bidadari di sini. Dan saat ini saya seperti mimpi bisa bertemu dengan bidadari yang turun dari kayangan. Seiring berjalannya waktu, Raden sering bertemu dengan bidadari Sri Kemuning di telaga itu, hingga suatu hari Raden memberanikan diri untuk bertanya dengan bidadari. "Maukah engkau tinggal bersamaku di bumi ini?", tanya Raden kepada bidadari. Dalam waktu yang lama bidadari baru bisa memberikan jawaban kepada Raden. Dan akhirnya bidadari memutuskan untuk tinggal bersama Raden di bumi dengan memberikan selendang birunya untuk disimpan oleh Raden.  Kemudian mereka masuk ke kampung Gayam dan menemui Pak Tua sebagai penyimbang adat untuk dinikahan supaya tidak menimbulkan fitnah dari masyarakat.

Dalam menjalani hidup bersama, pasangan suami istri yang berbeda alam dikaruniai seorang putra dan diberi nama Kuppiudin. Kuppiudin tumbuh menjadi anak yang baik, dermawan, suka menolong terhadap sesama seperti ayahnya Raden Mas. Pernah suatu hari Kuppiudin menemui ibunya dalam keadaan murung, dan menanyakan "kenapa ibunda murung?" Ibunya selalu mengalihkan pembicaraan itu. Hampir setiap hari Raden menjumpai istrinya dalam keadaan murung dan Raden pun sudah menerka bahwa kemurungannya itu karena rasa kangen terhadap keluarganya di kayangan. Raden pun mengetahui dan bisa merasakan kesedihannya istrinya. Akhirnya pada suatu hari sebelum Raden berangkat ke ladang, Raden berpesan kepada Kappiudin, "sampaikan pesan ayah kepada ibu, kunci senyuman ada di lumbung padi." Setelah selesai sarapan yang dibuat oleh Raden, Sri Kemuning berpamitan kepada Kappiudin untuk pergi sebentar, Sri Kemuning pergi ke lumbung padi untuk mengambil selendang biru dan terbang menuju kayangan melepas rasa rindu bersama keluarganya di sana.

Di kayangan Sri Kemuning bertemu dengan keluarganya, sementara Sri Kemuning juga merasa rindu kepada suami dan anaknya di bumi. Karena sudah menjadi peraturan di negeri kayangan, Sri Kemuning tidak diizinkan untuk turun lagi ke kayangan seperti biasanya. Jika Sri Kemuning rindu dengan anak dan suaminya di bumi, maka ia pergi ke telaga yang ada di kayangan untuk sekedar melepas rasa rindu kepada anak dan suaminya. Di telaga itu juga banyak binatang-binatang kecil yang menemani Sri Kemuning, di sana ada seekor belut yang setia menemani curahan isi hati Sri Kemuning. Sementara Raden Mas dan Kappiudin juga merasa rindu kepada Sri Kemuning. Namun Raden tidak bisa berbuat apa-apa. Pada suatu hari Raden pergi ke pinggir telaga di kampung Gayam. Tiba-tiba ada sosok burung raksasa yang datang menghampiri Raden di tempat duduknya. Burung raksasa itu namanya garuda. Raden sangat terkejut karena burung raksasa itu bisa berbicara dan menanyakan apa yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh Raden. Raden sangat ketakutan dan memohon jangan mengganggu dirinya. Setelah raden menjelaskan apa yang telah terjadi, kemudian burung garuda itu menawarkan untuk mengantarkan Raden menuju kayangan menjumpai isterinya. Burung garuda itu mengangkat raden terbang ke kayangan dan berpesan agar selalu menguatkan tekad. Raden pun mematuhinya dan selalu berdoa di sepanjang perjalanan terbang menuju kayangan.

Setelah mengantarkan Raden sampai ke kayangan, burung garuda pun berpamitan dan mengucapkan, "tugasku sudah selesai mengantarmu dan saya akan kembali ke bumi." Sesampainya di kayangan, tepat di depan pintu gerbang Raden dihadang oleh penjaga istana kayangan. Raden tidak boleh bergerak sedikitpun. Raden menjelaskan maksud dirinya datang ke kayangan yaitu ingin menemui istrinya yang bernama Sri Kemuning. Raden tetap tidak diizinkan masuk ke kayangan dan disuruh kembali ke bumi. Suara keributan antara Raden dan penjaga terdengar dari dalam oleh petinggi kayangan. Akhirnya petinggi khayangan mempersilakan Raden untuk masuk dan sepakat para petinggi kayangan akan memberikan ujian untuk membuktikan kebenarannya. Raden diuji oleh petinggi kayangan dalam tiga ujian berat. Kemudian Raden di bawa ke telaga kayangan untuk menjalani ujian yang pertama. Di telaga Raden harus mengisi air ke dalam ember dengan menggunakan jaring ikan. Suatu ujian yang sangat sulit karena mengisi air ke dalam ember menggunakan jaring tentunya tidak akan bisa terisi. Namun Raden terus berusaha mengisi air ke dalam ember menggunakan jaring dan hasilnya sangat tidak memuaskan, keringatnya mengalir dan tenaga Raden hampir habis. Sampai akhirnya Raden bertemu dengan seekor belut. Kemudian belut itu masuk ke dalam jarring dan berputar-putar, lendir belut menutupi semua bagian jaring sehingga jaring akan tertutup rapat oleh lendir belut sehingga Raden bisa mengisi air dengan mudah. Akhirnya raden bisa menyelesaikan ujian pertama dengan sempurna berkat pertolongan belut. Bunyi gong satu kali menandakan ujian pertama sudah selesai.

Petinggi kayangan merasa heran lalu mengajak Raden untuk menjalani ujian yang kedua. Ujian yang kedua ini Raden di bawah masuk ke ruang makan disana sudah terdapat 7 piring makanan yang bentuk dan rupanya sama. Raden disuruh memilih salah satu makanan dan menghabiskan makanan tersebut. Di salah satu piring makanan terdapat racun yang berbahaya, jika Raden salah memilih makanan maka Raden makan terkena racun berbahaya itu, namun jika Raden tepat memilih makanan, Raden akan lolos dengan ujian ini. Sambil berdoa Raden memperhatikan makanan yang akan dipilih, tiba-tiba ada seekor lalat hinggap di salah satu piring makanan. Raden teringat oleh sesuatu nasehat bahwa jika ada lalat yang hinggap di makanan maka itu adalah racun, namun di sayap lainnya adalah obat. Jadi Raden memilih makanan yang dihinggapi lalat dan menenggelamkannya lalat tersebut kemudian Raden menghabiskan makanan itu. Akhirnya Raden selamat dengan bantuan lalat. Ujian kedua sudah dijalani oleh Raden dengan baik, ditandai dengan suara gong dua kali. Tinggal ujian terakhir yang akan dilalui oleh Raden.

Setelah ujian dua sudah berlalu Raden di bawah ke sebuah ruangan yang sangat luas di sana terdapat beberapa ranjang besi tempat tidur. Raden harus menjalani ujian ketiga ini yaitu memilih salah satu ranjang besi yang di dalamnya ada Sri Kemuning yaitu isterinya. Raden dihadapkan rasa bingung karena tidak tahu di ranjang mana Sri Kemuning berada. Raden menutup mata sambil berdoa tiba-tiba dihadapannya ada sinar yang sangat terang, dipancarkan kilauan sinar raja kunang-kunang. Rupanya kunang-kunang yang dahulu pernah diselamatkan oleh Raden ketika masih berbentuk telur dari kepunahan telur-telurnya. Raja kunang-kunang itu berkata, "ikutilah saya." Kemudian kunang-kunang itu terbang menunjuk salah satu ranjang besi untuk dipilih Raden. Di situlah Sri Kemuning berada. Akhirnya Raden memutuskan untuk memilih ranjang besi yang diberi tahu oleh raja kunang-kunang. Tirai ranjang besi dibuka dan Raden bertatap muka dengan Sri Kemuning. Mereka saling meneteskan air mata kebahagiaan. Gong dibunyikan tiga kali pertanda ujian yang ketiga sudah selesai.

Keduanya segera turun ke bumi setelah mendapat restu dari petinggi kayangan. Anaknya, Kappiudin sangat bahagia melihat kedua orang tuanya bersama kembali ke rumah. Mereka hidup berdampingan dengan masyarakat kampung Gayam, saling tolong-menolong, bergotong-royong dan selalu bersyukur atas apa yang telah didapat.

Pesan:
  1. Kegigihan dan niat yang tulus akan mendapatkan hasil yang memuaskan,
  2. Sikap pantang menyerah suka menolong dan saling membantu sesama manusia,
  3. Selalu berdoa dan percaya bahwa Allah adalah sebaik-baik penolong.

 (Amd-MP)

Dika Diserang Renik

Matic Pustaka. e-comic
Tema: Kebersihan
Sub tema: Kebersihan tangan


Deskripsi Cerita sekilas:
Dika seorang anak SD dkk makan tanpa cuci tangan dan sembarangan. Dalam kisah ini kita akan dibawa kedunia renik pada saat Dika makan dan bagaimana para makhluk renik itu berusaha menjadikan tubuh Dika sebagai habitatnya.

Untuk mendapatkan cerita lengkapnya silakan kunjungi website resmi Hidden Gems Story berikut:
https://hidden-gems-story.com/download-3/download-2/





Diberdayakan oleh Blogger.
 
Support : BERANDA PRINGSEWU | Johny Template | SEWUJOS
Copyright © 2016. MATIC PUSTAKA - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger