NEW Literacy

DONGENG MALIN KUNDANG

Matic Pustaka. Kebiasaan orang tua dalam memberikan cerita/dongeng sebelum menghantarkan anaknya tidur, sudah jarang diterapkan di keluarga. Pada dasarnya anak-anak khususnya di bawah usia lima tahun, sangat berpotensi diberikan pesan moral yang baik melalui cerita-cerita edukatif seperti dongeng, hikayat, al-kisah, serta cerita lainnya yang bisa merangsang imajinasi buah hati kita.
Hal positif inilah yang sekarang sudah semakin tergerus dengan adanya teknologi yang semakin canggih. Namun tidak bisa dipungkiri, hampir semua kita membutuhkannya. Selain untuk memudahkan dalam pekerjaan, juga dirasa bisa menyelesaikan beberapa permasalahan.

Kembali lagi ke dongeng, berikut adalah sepenggal kisah Malin Kundang. Dikutip dari beberapa sumber dan versi. Sebagai bahan referensi untuk menceritakan kisah seorang anak yang memiliki sifat durhaka terhadap ibunya setelah mencapai puncak kejayaan/kekayaannya. 

Malin Kundang. DONGENG MALIN KUNDANG
======================================



Malin Kundang anak yang durhaka



Suatu waktu, hiduplah sebuah keluarga nelayan di pesisir pantai wilayah Sumatera. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak laki-laki yang diberi nama Malin Kundang. Karena kondisi keuangan keluarga memprihatinkan, sang ayah memutuskan untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan mengarungi lautan yang luas.

Malin Kundang

Maka tinggallah si Malin dan ibunya di gubug mereka. Seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan bahkan sudah 1 tahun lebih lamanya, ayah Malin tidak juga kembali ke kampung halamannya. Sehingga ibunya harus menggantikan posisi ayah Malin untuk mencari nafkah. 

Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas dilengannya dan tidak bisa hilang.

Setelah beranjak dewasa, Malin Kundang merasa kasihan dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Ia berpikir untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali ke kampung halaman, ia sudah menjadi seorang yang kaya raya. Malin tertarik dengan ajakan seorang nakhoda kapal dagang yang dulunya miskin sekarang sudah menjadi seorang yang kaya raya.

Malin kundang mengutarakan maksudnya kepada ibunya. Ibunya semula kurang setuju dengan maksud Malin Kundang, tetapi karena Malin terus mendesak, Ibu Malin Kundang akhirnya menyetujuinya walau dengan berat hati. 

Setelah mempersiapkan bekal dan perlengkapan secukupnya, Malin segera menuju ke dermaga dengan diantar oleh ibunya. “Anakku, jika engkau sudah berhasil dan menjadi orang yang berkecukupan, jangan kau lupa dengan ibumu dan kampung halamannu ini, nak”, ujar Ibu Malin Kundang sambil berlinang air mata.

Kapal yang dinaiki Malin semakin lama semakin jauh dengan diiringi lambaian tangan Ibu Malin Kundang. Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman. 

Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. 

Malin Kundang sangat beruntung dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut, karena ketika peristiwa itu terjadi, Malin segera bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu.

Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Sesampainya di desa tersebut, Malin Kundang ditolong oleh masyarakat di desa tersebut setelah sebelumnya menceritakan kejadian yang menimpanya. 

Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.

Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang. Ibu Malin Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin Kundang setiap hari pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya.

Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran dengan kapal yang besar dan indah disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin Kundang yang setiap hari menunggui anaknya, melihat kapal yang sangat indah itu, masuk ke pelabuhan. Ia melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.

Malin Kundang pun turun dari kapal. Ia disambut oleh ibunya. Setelah cukup dekat, ibunya melihat bekas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. 

“Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?”, katanya sambil memeluk Malin Kundang. 

Tapi apa yang terjadi kemudian? Malin Kundang segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh.

“Wanita tak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku”, kata Malin Kundang pada ibunya. 

Malin Kundang pura-pura tidak mengenali ibunya, karena malu dengan ibunya yang sudah tua dan mengenakan baju compang-camping. 

“Wanita itu ibumu?”, Tanya istri Malin Kundang. 

“Bukan, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan harta ku”, sahut Malin kepada istrinya. 

Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menengadahkan tangannya sambil berkata 

“Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu”. 

Tidak berapa lama kemudian angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang.

Pasebu menjadi sasaran melapak Pustaka Matic Perpustakaan Keliling

Matic Pustaka. Pasebu, tempat baru melapak Pustaka MaticNiat untuk terus menjajakan buku bacaan kepada masyarakat tetap dilakoni selagi punya waktu luang. Bersama dengan teman sekerjanya, kang Amin sapaan akrabnya, membuka lapak baca gratis di arena bermain anak-anak dan masyarakat Pekon Pagelaran dalam kegiatan rutin mingguan Pasebu (Pasar Seni dan Budaya). Ide ini berawal dari informasi salah seorang panitia Pasebu, bahwa di tempatnya sering diadakan kegiatan semacam malam mingguan bagi warga sekitar. Seperti nonton bareng laga sepak bola, kegiatan mewarnai bagi anak-anak, bazaar kuliner masyarakat, atau kegiatan penyuluhan/sosialisasi/kunjungan bagi pihak yang berkepentingan.

Pasebu menjadi sasaran melapak Pustaka Matic
Sore itu, Sabtu malam Minggu merupakan waktu pertama melapak Pustaka Matic di tengah-tengah kegiatan Pasebu. Bermodal alas banner bekas serta beberapa eksemplar buku bacaan sebagai amunisi, dengan harapan ada masyarakat yang mau mendekat dan membuka buku yang telah digelar. Dan pada akhirnya informasi di dalam buku bisa tersampaikan kepada masyarakat yang membacanya.

Warga masyarakat selain menikmati jajanan tradisional di Pasebu, bisa juga hanya melihat-lihat suasana atau sekadar mengambil view photo di lokasi Pasebu.

Wahana permainan dan kuliner


Kembali, FPPTI wilayah Lampung terima Hibah Buku dari The Asia Foundation (TAF) 2019

Matic Pustaka. Hibah buku TAF untuk FPPTI Lampung. Seperti pada tahun 2017 dan 2018, pada kesempatan ini  di tahun 2019 Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) wilayah Lampung menerima hibah buku dari TAF. Buku-buku hibah dari TAF memuat hampir semua disiplin ilmu yang diperuntukkan pemanfaatannya kepada perpustakaan-perpustakaan perguruan tinggi, sebagai bahan referensi/literature pendidikan dan penelitian. Kepala UPT Perpustakaan Unila sekaligus Ketua FPPTI wilayah Lampung, DR. Eng. Mardiana, S.T., M.T mengatakan, "pada tahun 2019 ini, jumlah judul buku yang diterima FPPTI wilayah Lampung adalah 180 judul, yang terdiri atas 1730 eksemplar. Sesuai dengan program kerja yang dimiliki FPPTI wilayah Lampung, buku-buku tersebut akan dibagikan secara cuma-cuma kepada perguruan tinggi yang terdaftar sebagai anggota. Adapun dari FPPTI wilayah Lampung sudah memiliki keanggotaan berjumlah 23 perguruan tinggi negeri dan swasta. Jumlah tersebut belum semua perguruan tinggi  yang ada di Lampung terdaftar sebagai anggota forum."
Di antara perguruan tinggi yang hadir dan terdaftar sebagai anggota aktif adalah Unila, UIN Raden Intan, Itera, Polinela, Poltekkes, Unimal, IBI Darmajaya, UBL, UM Metro, UTI, UMPRI, UAP, Akper Dharma Wacana, Akper Bunda Delima, UML, Akbid Panca Bakti.

Briefing tim identifikasi buku hibah TAF 2019

Secara teknis, pengelolaan buku hibah TAF yang dilakukan FPPTI Lampung ada beberapa proses/tahapan, yakni:

1. Identifikasi bahan pustaka. Proses ini meliputi pencocokan data yang ada dengan pengecekan fisik buku yang diterima. Dalam proses identifikasi buku, pelaksanaan dilakukan setelah selesai dengan kegiatan pelatihan Augmented Reality for Library (ARLib) lanjutan, yang dilaksanakan pada hari Selasa, 05 November 2019.

Peserta pelatihan ARLib (pengaplikasian poster promosi perpus)

2. Inventaris kebutuhan dari masing-masing perguruan tinggi anggota Forum. Karena tidak semua perguruan tinggi yang menjadi anggota membutuhkan jenis buku dari data yang ada. Dikhawatirkan nanti setelah buku dibagikan, tanpa adanya konfirmasi dari masing-masing anggota, buku tidak dimanfaatkan (mubazir),karena tidak sesuai dengan disiplin ilmunya.

Proses pembongkaran buku hibah

3. Mendata jenis buku yang dibutuhkan oleh masing-masing perguruan tinggi dengan jumlah dan jenis buku yang ada.

Ceklis data judul buku dan jumlah eksemplar


4. Proses pendistribusian buku hibah ke masing-masing anggota berdasarkan data usulan dan diterapkan skala prioritas untuk anggota forum yang aktif dalam kegiatan sesuai program kerja tahun 2019 FPPTI wilayah Lampung.

Diharapkan semua jenis buku yang diberikan oleh The Asia Foundation (TAF) melalui FPPTI wilayah Lampung, bisa dimanfaatkan untuk semua masyarakat, khususnya di dunia akademisi dan umumnya masyarakat secara luas. (Amd-MP)
 
Support : BERANDA PRINGSEWU | Johny Template | SEWUJOS
Copyright © 2016. MATIC PUSTAKA - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger