Tips Agar bekerja bernilai ibadah
Kita ketahui bahwa di dalam Islam, ibadah dibagi menjadi dua berdasarkan jenisnya, yaitu ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdhah. Ibadah mahdhah adalah ibadah secara langsung kepada Allah. Ibadah mahdhah memiliki empat prinsip, yaitu :
1. keberadaan ibadah tersebut berdasarkan dalil yang jelas,
2. tata cara pelaksanaannya berdasarkan tata cara yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW,
3. di atas jangkauan akal (bersifat supra rasional),
4. berazas ketaatan (kepatuhan atau ketaatan adalah hal yang dituntut dari hamba dalam melaksanakan ibadah ini).
Secara sederhana, ibadah mahdhah dapat dipahami sebagai ibadah ritual. Rumus dari ibadah mahdhah adalah karena Allah dan sesuai syariat. Contoh ibadah mahdhah, antara lain wudhu, tayammum, azan, iqamat, shalat, puasa, dan haji.
Jenis ibadah yang kedua adalah ibadah ghairu mahdhah, yaitu ibadah yang di samping berhubungan dengan Allah SWT juga melibatkan interaksi dengan sesama manusia dan makhluk lain.
Sebagaimana ibadah mahdhah, ibadah ghairu mahdhah pun memiliki 4 prinsip. Keempat prinsip tersebut adalah:
1. tidak ada dalil yang melarang,
2. pelaksanaannya tidak harus selalu berpola pada contoh Nabi Muhammad,
3. bersifat rasional, dan
4. berazas manfaat (sepanjang membawa manfaat, boleh dilakukan).
Rumus dari ibadah ghairu mahdhah adalah berbuat baik karena Allah.
Bentuk-bentuk ibadah ghairu mahdhah tidak terbatas. Sepanjang itu perbuatan baik yang membawa manfaat dan dilakukan karena Allah, maka perbuatan tersebut Insya Allah bernilai ibadah. Di antara lautan bentuk ibadah ghairu mahdhah, bekerja adalah salah satunya. Ya, bekerja sebagai ibadah. Bahkan, bentuk ibadah ini memiliki kedudukan yang sangat mulia di dalam Islam.
Al-Qur’an banyak menerangkan perintah untuk bekerja, antara lain Surat At- Taubah: 105,
Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.
Qashash: 26,
Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya".
dan Al Jumuah: 10.
Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW menyampaikan yang intinya adalah kelelahan karena mencari nafkah dapat menghapus dosa yang bahkan dosa tersebut tidak dapat dihapus dengan shalat, puasa, zakat, dan haji. Mencari nafkah tentu sama dengan bekerja. Masih banyak hadis lain yang menerangkan kewajiban untuk bekerja.
Hanya saja, agar bekerja dapat bernilai ibadah, tentu ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi. Sebab, tidak mungkin jenis pekerjaan yang bertentangan dengan akidah dan syariat Islam dapat memiliki nilai ibadah di dalamnya.
Syarat-syarat yang mesti dipenuhi untuk menjadikan bekerja sebagai ibadah, antara lain sebagai berikut:
1. Niat yang benar
Bekerja akan bernilai ibadah jika niatnya lurus ingin mencari nafkah karena Allah. Jangan sampai kita bekerja niat kita terbatas pada urusan dunia semata-mata, atau bahkan ada niat tidak baik yang melandasi kita dalam bekerja.
2. Bekerja dilakukan dengan cara yang benar
Ketika kita sudah memiliki niat yang lurus dalam bekerja, tetapi cara yang kita lakukan tidak benar, pekerjaan kita tentu tidak akan mendapatkan nilai ibadah.
Misalnya, kita meniatkan kerja karena Allah, tetapi di lingkungan kerja kita melakukan hal-hal yang tidak terpuji, seperti menerima suap, melakukan korupsi, atau mengambil milik orang lain.
3. Jenis pekerjaan yang baik
Bekerja kita dipastikan tidak akan menjadi ibadah jika pekerjaan kita adalah jenis pekerjaan buruk yang dilarang oleh agama.
4. Perilaku yang terjaga
Kita dapat menjadikan bekerja sebagai ibadah, salah satunya dengan menjaga perilaku ketika bekerja. Melakukan hal-hal yang berdosa, seperti bergunjing, melakukan ghibah, menjegal rekan kerja, menjilat atasan, menginjak bawahan, tentu akan merusak nilai ibadah dari aktivitas bekerja.
5. Dilakukan dengan tulus dan ikhlas
Salah satu syarat ibadah diterima Allah SWT adalah harus ikhlas. Demikian pula dengan bekerja. Agar dapat bernilai ibadah, bekerja harus dilakukan dengan ikhlas.
Semoga kita semua bisa menjadikan pekerjaan kita sebagai salah satu bentuk beribadah kepada Allah SWT.
Maha Suci Engkau ya Allah, aku memujiMu. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau, aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-Mu.
Growing Together
Growing Together.
Iyak, benar sekali yang dikatakan Ibu Lina siang tadi. Kepingin menjadikan sebuah tempat sebagai pusat berkegiatan masyarakat sekitar. Tepatnya di Komplek Perumahan Lucky Arya Residen 2, Fajaragung Barat Kecamatan Pringsewu. Mulanya diundang menjadi salah satu kontributor kegiatan di teras rumahnya yang menurut informasi sudah delapan kali pertemuan dengan anak-anak lingkungan selama masa pandemi covid-19. Sebenarnya masih tersimpan perasaan cemas jika mengikuti pemberitaan di banyak media, baik cetak maupun elektronik. Bagaimana tidak, setiap saat jumlah kasus terus bertambah, dari hari ke hari, minggu ke minggu hingga saat ini. Ratusan ribu pasien positif terkonfirmasi Covid-19.
Anjuran dari Pemerintah yang seharusnya diindahkan untuk ditaati, ternyata masih banyak warga yang menganggap ini hal biasa saja. Alhasil, yah banyak orang yang awalnya sehat-sehat saja, waras-wiris, menjadi positif karena terpapar wabah. Dampaknya banyak, tidak hanya dari sektor perekonomian saja, bahkan hingga ke hampir semua lini menjadi lumpuh tak berdaya. Dunia pendidikan juga merenggut semangat generasi muda di negeri ini untuk menempuh pendidikan di rumah saja. Rasa bosan, jenuh, dan kangen bermain bersama teman-teman tentunya sudah sangat memuncak dirasakan oleh sebagian besar para murid/anak-anak sekolah. Karena beberapa bulan terakhir semenjak diberlakukan belajar dari rumah dan bekerja dari rumah terhitung sejak bulan Maret 2020 hingga saat ini aktifitas dibatasi dan anjuran menjaga kebersihan, kesehatan, serta menjaga jarak (Protokol Kesehatan). Namun, yang namanya anak-anak tentu perlu penyesuaian yang ekstra dalam hal ini, yang orang dewasa saja masih banyak yang tidak mengikutinya.
Ahad pagi pukul 09:18 waktu setempat, sudah banyak anak-anak yang ternyata menanti kedatangan Motor Matic pengusung buku-buku bekas. Awalnya sudah dikontak langsung oleh Aha, (sebutan akrab suami ibu Lina) bahawa di teras rumahnya setiap hari Jum'at dan Sabtu ada kegiatan belajar bersama yang digawangi oleh Kak Ara dan Ibu Lina. Sesuai jadwal, hari Jum'at anak-anak belajar mambaca bagi anak-anak yang memang belum lancar membacanya. Kemudian di hari Sabtu Kak Ara mengajari English Class, diperuntukkan kepada siswa-siswi kelas 2-6 SD. Nah, pas di hari Ahad sebenarnya belum ada jadwal khusus, tapi keinginan mengajak kolaburasi dengan Matic Pustaka sudah tercetus beberapa hari lalu. It's OK, karena memang sudah beberapa bulan tidak keliling dan hanya keluar masuk rak, buku-buku koleksi Matic Pustaka akhirnya bisa keluar markas juga. Walaupun di rumah juga sudah diselenggarakan untuk siapa saja yang hendak membaca dan belajar, namun karena masih dalam suasana pandemi kebanyakan warga merasa takut dan khawatir. Ya sudah, berangkat saja keliling. Sekalian hiburan di hari libur bersama anak-anak komplek. Kali pertama melakukan pelayanan setelah off beberapa bulan, rasanya terbayar sudah. Namun belum menemukan titik kepuasan, perlu dibuatkan kegiatan yang inovatif dan kreatif lagi agar daya nalar serta semangat belajar anak-anak semakin joss gandos kalau kata AHa.
Sementara dari Ibu Lina menambahkan, kegiatan ini memang seharusnya terus dilakukan dan tidak bisa secara sendiri-sendiri. Kita harus mengajak/menggandeng berbagai unsur atau komunitas, baik swasta maupun Pemerintah (yang mau dan peduli saja). Jika pun tidak ada yang mau kita akan tetap bergerak semampunya. Growing together.
(Amd-MP)
Label:
Kegiatan,
Pendidikan,
Pringsewu
Di Sela Perjalanan Panjang
![]() |
| Segelas kopi di pagi hari |
Segelas kopi di pagi hari menemani duduk
di ruang tamu yang dikelilingi tumpukan buku. Seperti motto sebuah perguruan
tinggi swasta di salah satu daerah “bisa dicicil”, itulah yang mengilhami
proses pengelolaan perpustakaan mandiri yang sedang mengalami kevakuman. Ada, tetapi tidak nampak, berdiri namun tak terlihat. Sebuah perpustakaan yang sudah
berdiri sejak dua tahun lebih, mengalami pasang surut sirkulasinya. Ibarat orang
mengadu nasib mengalami kembang-kempis timbul tenggelam. Bahkan kata seorang
guru kami “tidurnya terlalu lama.” Tidak bisa dipungkiri, perihal kegiatan yang
berstatus sosial kemasyarakatan, jika tidak dipupupk oleh semangat baru dari segala
sumber, pasti akan mengalami sebuah stagnan atau hanya terdiam. Terlebih tanpa
adanya sebuah tim yang bekerja di dalamnya.
Membagi waktu antara bekerja dan
berkegiatan bukan hal mudah untuk dilakukan, perlu sebuah manajemen yang baik
mengelolanya. Dasar dari sebuah konsisten adalah rasa suka atau hobi. Jika kita
sudah menyukai sebuah pekerjaan, walaupun pada akhirnya tidak mendapatkan
finansial seperti layaknya menjalani sebuah pekerjaan, namun disisi lain akan
menemukan sebuah kepuasan tersendiri. Fadktor lain adalah miskin ide,
ketidakkreatifan dalam menemukan formulasi untuk menggaet minat masyarakan di
dunia baca bisa menjadi salah satu faktor kevakuman sebuah perpustakaan.
Terlebih lagi dewasa ini semua orang disuguhkan dengan kemudahan-kemudahan
menemukan sesuatu apapun. Mulai dari mencari cara memasak, makanan, bahkan
menemukan barang belanjaan yang diinginkan pun cukup dengan meng-klik dan dalam
hitungan detik sudah bisa diketahui keberadaannya. Cukup mudah bukan?
Sebagai kita yang memiliki kepedulian
terhadap generasi masa depan, tentu kita berfikir secara panjang dan matang
dalam menyikapi hal demikian. Tidak semudah seperti apa yang kita bayangkan
sebelumnya, budaya membaca memang terkesan ketinggalan jaman. Namun, jika kita
tilik secara perlahan dan dari segi kemanfaatan, ternyata jauh ke depan manfaat
yang bisa kita peroleh dari membaca buku sangatlah luar biasa. Mungkin untuk
saat ini kita belum bisa merasakan dampaknya secara langsung, akan tetapi
beberapa waktu mendatang, kita akan dapat merasakannya dampak dari membaca
buku.
Sebagai contoh, dalam sebuah pendidikan/sekolah,
jika kita malas membaca buku, untuk menjawab sebuah soal yang diberikan oleh
guru kita pasti kita akan mengalami kesulitan. Kecuali jika kita memiliki
kemampuan di atas rata-rata, yang diterangkan sekali bisa mengingatnya
berkali-kali. Itu sebuah contoh yang bisa kita jumpai di sekolah-sekolah. Ada
banyak contoh lagi dari manfaat membaca buku lainnya. Yang jelas, dari beberapa
manfaat yang dapat kita ambil, kegiatan membaca buku merupakan hal positif yang
perlu kita biasakan sejak kita mengenal huruf, dengan harapan setelah kita
mulai mengikuti perkembangan jaman, tidak akan ada kata sulit setelah kita
lakukan membaca buku.
Kembali lagi kepada permasalahan tadi,
perpustakaan mandiri yang kami kelola memiliki tujuan yang salah satunya adalah
mendekatkan buku bacaan kepada masyarakat. Sasaran utama adalah warga terdekat
di lingkungan kami berada. Namun kembali lagi kepada rasa sadar masyarakat akan
pentingnya membaca. Menjadi sebuah tantangan bagi kami pengelola perpustakaan
jika sarana dan fasilitas sudah mendukung, tetapi keinginan untuk memanfaatkan
bahan bacaan masih rendah. Tidak ada yang perlu disalahkan dalam hal ini, yang
namanya kesadaran itu munculnya dari hati dan pemikiran masing-masing. Walaupun
kita memberikan iming-iming berupa hadiah, pada saat itu saja mungkin keinginan
untuk mendekati kami ada. Setelahnya jika tanpa adanya hadiah, entah pergi
kemana. Sekali dua kali hal ini boleh dilakukan sebagai perangsang agar
masyarakat mau mendekat dan mengetahui keberadaan kita, tapi jika dilakukan
secara terus menerus berarti masyarakat kita belum terbuka kesadarannya.
Label:
Cerpen
BUKU MASUK WARUNG (BMW)
BUKU MASUK WARUNG.
Matic Pustaka. Mengawali pergerakan di bidang Perpustakaan pada tahun 2018, kami memiliki beberapa program pengembangan perpustakaan khususnya di lingkungan Matic Pustaka. Di antaranya adalah program Buku Masuk Warung (BMW), yaitu sebuah terobosan untuk mendekatkan media buku kepada masyarakat. Awal tercetusnya ide ini berasal dari salah seorang sahabat penggiat literasi/perpustakaan keliling di daerah Sidoharjo Jawa Timur, beliau adalah Mas Fauzi Baim.
Setelah menyantap 2 judul buku yang ditulisnya, tentang kiat-kiat mengelola perpustakaan serta trik-triknya, timbul ide untuk mengadopsi apa yang telah dilakoninya selama beberapa tahun berjalan. Program Buku Masuk Warung akan kami coba kembangkan di Lampung, lebih tepatnya di Kabupaten Pringsewu. Menelusuri jejak langkah mas Fauzi, dengan modal buku-buku seadanya dan menilik kondisi lapangan yang ada, akhirnya kaki ini berjalan menuju sebuah warung kuliner di salah satu Kelurahan kota Kabupaten setelah melakukan negosiasi dengan pemilik warung dan menjelaskan secara singkat tanpa panjang lebar, si empunya warung menyambut baik maksud keinginan kami untuk mengembangkan perpustakaan dengan jalan penitipan buku di warungnya. Konsep yang kami tawarkan sangatlah sederhana, yaitu dengan menyediakan bahan bacaan yang sudah dicatat pendataan secara rapi di buku koleksi, kemudian survey lapangan tentang keramaian pengunjung warung yang nantinya akan menjadi sasaran pembaca buku-buku kami. Sementara pemilik warung hanya menyediakan tempat/wadah untuk meletakkan buku-buku yang kami titipkan.
![]() |
| Salah satu warung penitipan buku Matic Pustaka |
Pendataan buku-buku yang dititipkan disertai dengan berita acara penitipan, buku pemustaka/pengunjung, dan buku peminjaman jika ada pengunjug yang akan meminjamnya. Tentunya tidak lupa kami sertakan kolom donasi, apabila ada pengunjung yang memiliki keinginan berdonasi berupa buku maupun media belajar lainnya. Bentuk donasi berupa buku ataupun media belajar lainnya tidak harus baru, buku-buku bekas pun selama masih laik baca, akan kami terima sebagai bentuk jariyah dari para dermawan. Kami dari pengelola sangat membuka hati kepada masyarakat luas berkenaan dengan program pengembangan ini. Tidak ada batasan pergerakan selama masih dalam satu misi mencerdaskan bangsa.
Teknis dari program BMW ini adalah dalam jangka waktu 1-2 bulan kami lakukan kontrol terhadap kemanfaatan koleksi, apakah benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat luas atau hanya biasa saja seperti pada saat belum ada titipan buku. Jika ada tanggapan positif dari masyarakat, tentunya itu menjadi tujuan kami melakukan kegiatan ini. Namun sebaliknya, jika tidak ada perkembangan atau bahkan stagnan seperti sedia kala, itu juga menjadi evaluasi kami, apakah buku-buku yang kami sajikan tidak tepat peruntukannya atau memang benar adanya bahwasanya minat budaya baca masyarakat kurang dimiliki. Karena kita semua ketahui bahwa minat membaca warga Indonesia saat ini sangatlah rendah. Banyak faktor yang mempengaruhi di dalamnya. Di sini tidak akan kami sebutkan satu-persatu faktor tersebut, namun secara garis besar penyebab rendahnya minat baca masyarakat kita adalah kurang tersedianya akses bahan bacaan. Dengan demikian, perlu kita dekatkan, hadirkan, dan sajikan bahan bacaan yang mudah, murah, dan berkualitas. Menjadi tugas kita bersama dalam menyikapi hal ini.
Salah satunya adalah sinergitas kita semua mulai dari pemangku kebijakan, hingga masyarakat paling awam sekalipun memiliki tugas sesuai porsinya masing-masing.
Langkah awal kami ini akan dilakukan secara berkesinambungan dan penambahan warung-warung baru jika permulaan ini berhasil. Tentunya perlu adanya dukungan dan sosialisasi kepada masyarakat untuk mewujudkan sebuah keberhasilan. Tanpa adanya konstribusi masyarakat, kegiatan ini tidak akan berjalan secara maksimal. Mari kita semua melakukan hal kecil yang positif demi kemajuan dan masa depan anak-anak kita mendatang. Diawali dari diri kita dan keluarga, membudayakan kegiatan membaca sejak usia dini di lingkungan terdekat. (Amd-MP)
DONGENG MALIN KUNDANG
Matic Pustaka. Kebiasaan orang tua dalam memberikan cerita/dongeng sebelum menghantarkan anaknya tidur, sudah jarang diterapkan di keluarga. Pada dasarnya anak-anak khususnya di bawah usia lima tahun, sangat berpotensi diberikan pesan moral yang baik melalui cerita-cerita edukatif seperti dongeng, hikayat, al-kisah, serta cerita lainnya yang bisa merangsang imajinasi buah hati kita.
Hal positif inilah yang sekarang sudah semakin tergerus dengan adanya teknologi yang semakin canggih. Namun tidak bisa dipungkiri, hampir semua kita membutuhkannya. Selain untuk memudahkan dalam pekerjaan, juga dirasa bisa menyelesaikan beberapa permasalahan.
Kembali lagi ke dongeng, berikut adalah sepenggal kisah Malin Kundang. Dikutip dari beberapa sumber dan versi. Sebagai bahan referensi untuk menceritakan kisah seorang anak yang memiliki sifat durhaka terhadap ibunya setelah mencapai puncak kejayaan/kekayaannya.
Malin Kundang. DONGENG MALIN KUNDANG
======================================
![]() |
| Malin Kundang anak yang durhaka |
Suatu waktu, hiduplah sebuah keluarga nelayan di pesisir pantai wilayah Sumatera. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak laki-laki yang diberi nama Malin Kundang. Karena kondisi keuangan keluarga memprihatinkan, sang ayah memutuskan untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan mengarungi lautan yang luas.
Malin Kundang
Maka tinggallah si Malin dan ibunya di gubug mereka. Seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan bahkan sudah 1 tahun lebih lamanya, ayah Malin tidak juga kembali ke kampung halamannya. Sehingga ibunya harus menggantikan posisi ayah Malin untuk mencari nafkah.
Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas dilengannya dan tidak bisa hilang.
Setelah beranjak dewasa, Malin Kundang merasa kasihan dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Ia berpikir untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali ke kampung halaman, ia sudah menjadi seorang yang kaya raya. Malin tertarik dengan ajakan seorang nakhoda kapal dagang yang dulunya miskin sekarang sudah menjadi seorang yang kaya raya.
Malin kundang mengutarakan maksudnya kepada ibunya. Ibunya semula kurang setuju dengan maksud Malin Kundang, tetapi karena Malin terus mendesak, Ibu Malin Kundang akhirnya menyetujuinya walau dengan berat hati.
Setelah mempersiapkan bekal dan perlengkapan secukupnya, Malin segera menuju ke dermaga dengan diantar oleh ibunya. “Anakku, jika engkau sudah berhasil dan menjadi orang yang berkecukupan, jangan kau lupa dengan ibumu dan kampung halamannu ini, nak”, ujar Ibu Malin Kundang sambil berlinang air mata.
Kapal yang dinaiki Malin semakin lama semakin jauh dengan diiringi lambaian tangan Ibu Malin Kundang. Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut.
Malin Kundang sangat beruntung dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut, karena ketika peristiwa itu terjadi, Malin segera bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu.
Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Sesampainya di desa tersebut, Malin Kundang ditolong oleh masyarakat di desa tersebut setelah sebelumnya menceritakan kejadian yang menimpanya.
Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.
Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang. Ibu Malin Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin Kundang setiap hari pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya.
Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran dengan kapal yang besar dan indah disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin Kundang yang setiap hari menunggui anaknya, melihat kapal yang sangat indah itu, masuk ke pelabuhan. Ia melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.
Malin Kundang pun turun dari kapal. Ia disambut oleh ibunya. Setelah cukup dekat, ibunya melihat bekas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang.
“Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?”, katanya sambil memeluk Malin Kundang.
Tapi apa yang terjadi kemudian? Malin Kundang segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh.
“Wanita tak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku”, kata Malin Kundang pada ibunya.
Malin Kundang pura-pura tidak mengenali ibunya, karena malu dengan ibunya yang sudah tua dan mengenakan baju compang-camping.
“Wanita itu ibumu?”, Tanya istri Malin Kundang.
“Bukan, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan harta ku”, sahut Malin kepada istrinya.
Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menengadahkan tangannya sambil berkata
“Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu”.
Tidak berapa lama kemudian angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang.
Label:
Cerita Anak,
Dongeng
Pasebu menjadi sasaran melapak Pustaka Matic Perpustakaan Keliling
Matic Pustaka. Pasebu, tempat baru melapak Pustaka Matic. Niat untuk terus menjajakan buku bacaan kepada masyarakat tetap dilakoni selagi punya waktu luang. Bersama dengan teman sekerjanya, kang Amin sapaan akrabnya, membuka lapak baca gratis di arena bermain anak-anak dan masyarakat Pekon Pagelaran dalam kegiatan rutin mingguan Pasebu (Pasar Seni dan Budaya). Ide ini berawal dari informasi salah seorang panitia Pasebu, bahwa di tempatnya sering diadakan kegiatan semacam malam mingguan bagi warga sekitar. Seperti nonton bareng laga sepak bola, kegiatan mewarnai bagi anak-anak, bazaar kuliner masyarakat, atau kegiatan penyuluhan/sosialisasi/kunjungan bagi pihak yang berkepentingan.
![]() |
| Pasebu menjadi sasaran melapak Pustaka Matic |
Sore itu, Sabtu malam Minggu merupakan waktu pertama melapak Pustaka Matic di tengah-tengah kegiatan Pasebu. Bermodal alas banner bekas serta beberapa eksemplar buku bacaan sebagai amunisi, dengan harapan ada masyarakat yang mau mendekat dan membuka buku yang telah digelar. Dan pada akhirnya informasi di dalam buku bisa tersampaikan kepada masyarakat yang membacanya.
Warga masyarakat selain menikmati jajanan tradisional di Pasebu, bisa juga hanya melihat-lihat suasana atau sekadar mengambil view photo di lokasi Pasebu.
![]() |
| Wahana permainan dan kuliner |
Kembali, FPPTI wilayah Lampung terima Hibah Buku dari The Asia Foundation (TAF) 2019
Matic Pustaka. Hibah buku TAF untuk FPPTI Lampung. Seperti pada tahun 2017 dan 2018, pada kesempatan ini di tahun 2019 Forum Perpustakaan Perguruan
Tinggi Indonesia (FPPTI) wilayah Lampung menerima hibah buku dari TAF. Buku-buku
hibah dari TAF memuat hampir semua disiplin ilmu yang diperuntukkan pemanfaatannya
kepada perpustakaan-perpustakaan perguruan tinggi, sebagai bahan
referensi/literature pendidikan dan penelitian. Kepala UPT Perpustakaan Unila sekaligus Ketua FPPTI wilayah Lampung, DR. Eng. Mardiana, S.T., M.T mengatakan, "pada tahun 2019 ini, jumlah
judul buku yang diterima FPPTI wilayah Lampung adalah 180 judul, yang terdiri
atas 1730 eksemplar. Sesuai dengan program kerja yang dimiliki FPPTI wilayah
Lampung, buku-buku tersebut akan dibagikan secara cuma-cuma kepada perguruan
tinggi yang terdaftar sebagai anggota. Adapun dari FPPTI wilayah Lampung sudah
memiliki keanggotaan berjumlah 23 perguruan tinggi negeri dan swasta. Jumlah tersebut
belum semua perguruan tinggi yang ada di
Lampung terdaftar sebagai anggota forum."
Di antara perguruan tinggi yang hadir dan terdaftar sebagai anggota aktif adalah Unila, UIN Raden Intan, Itera, Polinela, Poltekkes, Unimal, IBI Darmajaya, UBL, UM Metro, UTI, UMPRI, UAP, Akper Dharma Wacana, Akper Bunda Delima, UML, Akbid Panca Bakti.
Di antara perguruan tinggi yang hadir dan terdaftar sebagai anggota aktif adalah Unila, UIN Raden Intan, Itera, Polinela, Poltekkes, Unimal, IBI Darmajaya, UBL, UM Metro, UTI, UMPRI, UAP, Akper Dharma Wacana, Akper Bunda Delima, UML, Akbid Panca Bakti.
![]() |
| Briefing tim identifikasi buku hibah TAF 2019 |
Secara teknis, pengelolaan buku hibah TAF yang dilakukan FPPTI Lampung ada beberapa proses/tahapan,
yakni:
1. Identifikasi bahan pustaka. Proses
ini meliputi pencocokan data yang ada dengan pengecekan fisik buku yang
diterima. Dalam proses identifikasi buku, pelaksanaan dilakukan setelah selesai
dengan kegiatan pelatihan Augmented Reality for Library (ARLib) lanjutan, yang
dilaksanakan pada hari Selasa, 05 November 2019.
![]() |
| Peserta pelatihan ARLib (pengaplikasian poster promosi perpus) |
2. Inventaris kebutuhan dari
masing-masing perguruan tinggi anggota Forum. Karena tidak semua perguruan
tinggi yang menjadi anggota membutuhkan jenis buku dari data yang ada. Dikhawatirkan
nanti setelah buku dibagikan, tanpa adanya konfirmasi dari masing-masing
anggota, buku tidak dimanfaatkan (mubazir),karena tidak sesuai dengan disiplin
ilmunya.
![]() |
| Proses pembongkaran buku hibah |
3. Mendata jenis buku yang
dibutuhkan oleh masing-masing perguruan tinggi dengan jumlah dan jenis buku
yang ada.
![]() |
| Ceklis data judul buku dan jumlah eksemplar |
4. Proses pendistribusian buku hibah
ke masing-masing anggota berdasarkan data usulan dan diterapkan skala prioritas
untuk anggota forum yang aktif dalam kegiatan sesuai program kerja tahun 2019 FPPTI wilayah Lampung.
Diharapkan semua jenis buku yang diberikan oleh The Asia Foundation (TAF) melalui FPPTI wilayah Lampung, bisa dimanfaatkan untuk semua masyarakat, khususnya di dunia akademisi dan umumnya masyarakat secara luas. (Amd-MP)
Perpustakaan Komunitas di Pringsewu turut ambil bagian dalam pencanangan Kabupaten Literasi
Matic Pustaka. Perpustakaan Komunitas di Pringsewu dukung pencanangan Kabupaten Literasi
![]() |
| Penyerahan simbolis hibah buku oleh bunda Literasi Pringsewu |
Sejumlah pengelola Perpustakaan
Komunitas yang ada di Kabupaten Pringsewu mengikuti upacara peringatan hari
Sumpah Pemuda ke-91, Senin 28 Oktober 2019. Kegiatan upacara dilaksanakan di lapangan
Pemda Kabupaten Pringsewu, bertindak sebagai inspektur upacara Bapak Wakil
Bupati Pringsewu DR. H. Fauzi, S. Kom., Akt.
Dalam amanah upacara, beliau
membacakan pesan dari Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia. Dalam isi
surat tersebut, "pemuda merupakan tulang punggung negara. Sudah menjadi hal
penting jika penanaman pekerti dan pembekalan pendidikan harus diberikan." Bersamaan
dengan kegiatan upacara peringatan hari Sumpah Pemuda di Kabupaten Pringsewu,
turut dideklarasikan Kabupaten Pringsewu sebagai Kabupaten Literasi serta pengukuhan
bunda Literasi Kabupaten Pringsewu, Ibu Hj. Nurrochmah Sujadi oleh Kepala Dinas
Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Lampung. Semoga bisa amanah dan membawa
perubahan positif/kemajuan khususnya dalam dunia pendidikan di Kabupaten Pringsewu.
Di sela-sela kegiatan pencanangan
Kabupaten Pringsewu sebagai Kabupaten Literasi, hadir pula beberapa Perpustakaan Komunitas yang ada di Kabupaten Pringsewu. Dari seluruh komunitas yang ada, yang hadir di antaranya adalah Perpustakaan Matic, Gerobak Pustaka, Komunitas Baca Citra
Lestari, Sewu Buku, Perpustakaan Anak, Perpustakaan Pon-pes, Pojok Baca Pemda, Pojok Baca Pangonan, dan Perpustakaan Pekon/Kelurahan. Mereka diundang dalam rangka penerimaan hibah buku secara simbolis yang berasal dari
proses pengumpulan sejak bulan Agustus 2019 oleh panitia pencanangan.
Karena dinilai mereka para pelaku literasi di lapangan mampu menyebarluaskan
informasi positif yang terkandung dalam isi buku, baik secara langsung maupun
secara bertahap. Sinergitas antar semua lini sangat diharapkan demi terwujudnya
Pringsewu sebagai Kabupaten Literasi. (Amd-MP)
Label:
Arsip,
Pendidikan,
Pringsewu
Semiloka Kepustakawanan Nasional V dan SNIPer 2019
Matic Pustaka. Semiloka Kepustakawanan Nasional V dan SNIPer 2019
Hotel Novotel Bandarlampung, 02-04 Oktober 2019.
Pustakawan dan Perpustakaan Berinovasi:
From Smart Librarian to Smart Society
Semiloka Nasional Kepustakawanan merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh organisasi pustakawan yaitu Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) di seluruh Indonesia. Baik dilakukan oleh pengurus wilayah, maupun diselenggarakan oleh pengurus pusat. Dalam kesempatan ini, di tahun 2019 yang menjadi penyelenggara kegiatan Semiloka Nasional Kepustakawanan, Lampung menjadi host/tuan rumah kegiatan. Peserta yang hadir pada kegiatan Semiloka Kepustakawanan berjumlah lebih dari 100 orang yang berasal dari perwakilan Perguruan Tinggi Negeri dan swasta di seluruh Indonesia. Sebagai salah satu anggota Forum, Perpustakaan Universitas Aisyah Pringsewu (UAP) turut serta dalam menyukseskan kegiatan dimaksud. Ada dua pilihan yang bisa diikuti oleh setiap peserta Semiloka, yang pertama menjadi presenter Call for Paper (CfP), dan pilihan yang kedua menjadi peserta aktif dalam kegiatan Semiloka.
![]() |
| Peserta Semiloka Kepustakawanan 2019 |
Selain dari kegiatan Semiloka Kepustakawanan, disela-sela kegiatan ini dilakukan penandatanganan naskah kerja sama (MoU) antara Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia yang terdaftar sebagai anggota FPPTI dengan Perpustakaan Nasional RI. Adapun tujuan dari MoU ini di antaranya adalah menyebarluaskan informasi/koleksi yang dimiliki oleh Perpustakaan Nasional RI, baik koleksi tercetak maupun elektronik. Selain itu, tujuan lain dari isi MoU adalah pemanfaatan akses jurnal yang dilanggan oleh Perpustakaan RI sebagai tambahan sumber literasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, serta promosi jasa perpustakaan. Sebagai salah satu peserta penandatangan naskah kerja sama, Universitas Aisyah Pringsewu hadir dan mengikuti prosesi penandatanganan MoU yang langsung dihadiri oleh rektor Universitas Aisyah Pringsewu, bapak Hardono, M.Kep.
![]() |
| Penandatanganan MoU dengan Perpustakaan Nasional RI |
Tujuan mengikuti kegiatan Semiloka Nasional Kepustakawanan:
- Meningkatkan wawasan dan menambah ilmu/pengalaman dibidang ilmu perpustakaan dan informasi;
- Memperbanyak kenalan/relasi antar sesama peserta, khususnya para pengelola perpustakaan di seluruh Indonesia yang menjadi peserta kegiatan
- Turut serta mengembangkan organisasi profesi pustakawan;
- Networking, Sharing, Caring yang menjadi motto FPPTI
- Mendapatkan akses ke Perpustakaan Nasional RI melalui penandatanganan naskah kerja sama (MoU).
![]() |
| Bersama Rektor Universitas Aisyah Pringsewu. Hardono, M.Kep |
Materi dan Narasumber:
- Kebijakan Ristekdikti tentang Pengembangan Karier Pustakawan Peguruan Tinggi di Indonesia (Prof. dr. Ali Gufron Mukti, Ph.D)
- “Evolving Role of Academic Libraries: Supporting the University and Beyond” (Ho Wei Jiang- Bussines Development Director APAC)
- Library of Congress Strtaegic Plan in Building Smart Society (Carol L. Mitchell, Ph.D Field Director U.S Library of Congress for Indonesia)
- Strategi Komunikasi Perpustakaan dalam Mewujudkan Smart Society (Prof. Dr. Karomani, M.Si-Universitas Lampung)
- Peran Perilaku Informasi dalam Mewujudkan Smart Society (Rahmi, Ph. D-Universitas Indonesia)
- Pustakawan dan Perpustakaan Berinovasi: “From Smart Librarian to Smart Society” (Drs. Syarif Bando, M.M-Kepala Perpustakaan Nasional RI)
- Smart Repository Berbasis Aplikasi VIVO (Duraspace) untuk Perpustakaan Perguruan Tinggi (Dwi Fajar Saputra, S.Sos., M.M)
- Workshop dan Board Game sebagai media pembelajaran Literasi Informasi (Dhama Gustiar Baskoro, S.S., M.Pd- Universitas Bina Nusantara)
(Amd-MP)
DONGENG ISTANA PASIR
Matic Pustaka.
DONGENG ISTANA PASIR
DONGENG ISTANA PASIR
![]() |
| Ulang tahun Luna |
Luna, saudara Oki datang berlibur ke
rumah Oki. Luna adalah seorang penyihir cilik. Wajahnya cantik. "Ki, besok
aku berulang tahun. Itu sebabnya aku kesini. Aku ingin merayakannya
disini." ujar Luna.
Wah, Oki pusing juga. Ia lalu berjalan ke pantai, sambil mencari ide. "Apa
yang harus kulakukan untuk memeriahkan ulang tahun Luna?" pikir Oki sambil
bermain pasir. Tanpa disadari, ia membuat sebuah istana dari pasir.
"Wah bagus sekali istana pasirmu?" ujar Luna yang tiba-tiba muncul.
"Andai aku putri raja, tentu ulang tahunku dirayakan di istana.
Asyik,ya!" Luna mengkhayal. "Ah aku ada akal!" gumam Oki
seketika.
Oki lalu menemui Nirmala. Ia membisikkan sesuatu. "Oooo.... beres,
Ki!" ujar Nirmala sambil tersenyum lebar. "Eh itu pak Dobleh! Kau
juga bisa minta tolong padanya untuk membuat makanan!" saran Nirmala.
Oki lega karena pak Dobleh tak menolak permintaannya. "Akan kubuatkan
makanan yang enak untuk pesta saudaramu!" janji pak Dobleh. Kini Oki
mengundang teman-teman kurcacinya untuk datang ke pesta Luna.
Esoknya, pagi-pagi sekali Oki dan Nirmala ke pantai. Oki kembali membuat istana
dari pasir. Lalu, "sim salabim!" Nirmala menyulap istana pasir itu
menjadi istana betulan. Indah dan megah. "Wah Luna pasti senang!"
seru Oki riang.
Wuah, lihatlah! Meriah sekali pesta ulang tahun Luna. Pak Dobleh menghidangkan
makanan lezat di atas cangkang-cangkang kerang. Kurcaci-kurcaci datang membawa
hadiah. Ratu bidadari pun datang. Ia menghadiahi Luna sebuah mahkota mungil.
Hmmm... Luna jadi seperti putri raja kan? "Terima kasih, semuanya! Ini
pesta ulang tahunku yang paling meriah!" gumam Luna bahagia.
Label:
Cerita Anak,
Cerpen,
Dongeng
DONGENG HANSEL DAN GRETEL
DONGENG HANSEL DAN GRETEL
Pada zaman dahulu di sebuah desa hiduplah sebuah keluarga bahagia. Mereka mempunyai dua orang anak yang manis, namanya Hansel dan Gretel. Suatu ketika Ibu tercinta meninggal karena sakit. Sejak kematian sang Ibu, mereka selalu bersedih sepanjang hari.
Agar mereka tidak bersedih, kemudian Ayah mengambil Ibu baru untuk menghibur mereka. Ternyata Ibu baru ini sangat jahat dan memperlakukan mereka dengan buruk. Dari pagi hingga petang mereka disuruh terus bekerja dan hanya diberi makan satu kali. Musim kemarau pun tiba, dan mereka tidak mempunyai makanan apa-apa. Sang Ibu menyuruh anak-anak untuk dibawa ke hutan dan meninggalkannya di sana.
Ayah sangat terkejut mendengarnya. ”Bicara apa kau, apa kau ingin anak-anak mati?“
”Kau ini memang jahat, kalau kita tidak melakukannya, kita semua akan mati!”
Sementara itu dari balik kamar , Hansel dan Gretel mendengarkan pembicaraan mereka. Mereka ketakutan dan Gretel pun menangis.
Akhirnya Ayah tidak bisa berbuat apa-apa karena istrinya terus mendesaknya.
“Ah… apa kita akan mati di hutan ?! “
” Ssst.., aku punya ide bagus, ” ucap Hansel. Lalu ia keluar rumah dan mengumpulkan batu-batu kecil putih yang bila terkena cahaya bulan, akan bersinar. Pada esok paginya dengan berteriak keras, Ibunya membangunkan Hansel dan Gretel. Sebelum berangkat ia memberikan sepotong roti kepada mereka. Setelah itu semua berangkat menuju hutan. Sambil berjalan Hansel membuang batu kecil putih satu per satu yang ada dalam kantongnya. Karena berjalan sambil menoleh ke belakang, Ayah menjadi curiga.
”Sedang apa, Hansel? “
”Aku sedang memandang kucing yang ada di atas rumah,” jawab Hansel berbohong. Lalu tibalah mereka di tengah hutan. Ayah dan Ibunya pergi ke hutan yang lebih jauh lagi untuk menebang kayu dan meninggalkan mereka.
Rasa sedihpun berganti gembira, setelah di tengah hutan Hansel menemukan seekor kupu-kupu dan Gretel membuat kalung dari bunga. Mereka sangat gembira karena bisa bermain-main bersama teman baru mereka seperti kelinci, bajing/tupai, dan burung-burung kecil. Tanpa terasa waktu berlalu, mataharipun mulai tenggelam dan hari mulai gelap. Suara burung-burung yang indah kini berganti dengan suara angin yang berdesir. Gretel menangis tersedu-sedu karena takut. Hansel berkata menenangkan, “Jangan menangis, jika cahaya bulan muncul, kita pasti akan pulang dengan selamat “.
Tak lama kemudian, dari sela-sela pohon muncullah cahaya bulan yang bersinar dengan terang. Hansel segera mengajak Gretel untuk pulang ke rumah.
Hansel memegang tangan Gretel dan menyusuri jalan di hutan tanpa ragu-ragu.
”Kak, bagaimana bisa berjalan tanpa bingung di hutan yang gelap seperti ini?”
“Oh… batu kecil putih yang kujatuhkan ketika kita datang, bersinar karena terkena sinar bulan dan itu akan menolong kita pulang ke rumah.”
Tibalah mereka di rumah, sang Ibu heran melihatnya dan mencari tahu bagaimana mereka bisa sampai di rumah dengan mudah. Ketika ia membuka pintu, ia melihat batu kecil putih yang bersinar. Agar mereka tidak bisa mengumpulkan batu putih itu lagi, Ibu mengunci pintu kamar mereka. Hansel dan Gretel menjadi panik karenanya. Sebelum tidur mereka berdoa pada Tuhan, meminta perlindungan.
Keesokan harinya seperti kemarin, Ibu membangunkan mereka dan membawa mereka ke hutan. Hansel tidak kehabisan akal. Dengan terpaksa ia mencuil-cuil potongan roti dan menjatuhkannya di jalan sambil berjalan.
Tapi malang, jejak yang sudah dIbuatnya susah payah dimakan oleh burung-burung kecil. Sampailah mereka di dalam hutan. Kembali Ayah dan Ibunya meninggalkan mereka dan masuk ke hutan yang lebih jauh.
Merekapun bermain-main dengan binatang-binatang di dalam hutan. Akhirnya malampun tiba. Ketika cahaya bulan mulai bersinar mereka beranjak pulang. Dengan susah payah dicarinya potongan-potongan roti sebagai petunjuk jalan untuk pulang ke rumah.
”Kak, apa yang telah terjadi dengan potongan-potongan roti itu ?” teriak Gretel cemas. ”Mungkin dimakan oleh burung -burung kecil “ ”Uhh.., kalau begitu kita tidak bisa pulang ke rumah.” Di dalam hutan bergema suara lolongan keras. Mereka berdua amat ketakutan. “Kak, aku takut, apa kita akan mati!” Gretel mulai menangis.
”Jangan khawatir dik, Ibu yang ada di surga pasti menolong kita.”
Karena lelah, mereka akhirnya tertidur dengan pulas di bawah pohon. Cahaya matahari pun mulai bersinar dan mengenai wajah mereka. Hansel dan Gretel terbangun dan disambut suara kicauan burung. Tiba-tiba mereka mencium bau masakan yang lezat. Segera mereka berlari ke arah datangnya bau lezat itu. Seperti mimpi mereka melihat rumah kue, atapnya terbuat dari tart, pintunya dari coklat, dan dindingnya dari biskuit. Cepat-cepat mereka mendekati rumah itu dan memakannya. Tiba-tiba terdengar suara keras yang bergetar. “Siapa itu, berani memakan rumah kue kesayanganku?”, muncullah seorang nenek sihir tua dengan wajah menyeramkan serta mata merah yang bersinar, lalu menangkap mereka berdua. ”Hi… Hi…. Hi…. anak-anak yang lezat, sebagai hukuman karena telah memakan rumput kue kesukaanku, aku akan memakan kalian.” Dengan kasar nenek sihir itu menyeret Hansel masuk ke dalam penjara.
Setelah itu ia berkata kepada Gretel, “Mula-mula aku akan menggemukkan anak laki-laki itu, lalu aku akan memakannya.“ “Sekarang kau buat makanan yang enak biar makannya banyak! “ Nenek sihir itu sudah tua sekali dan matanya mulai rabun. Pada saat itu Hansel dan Gretel saling berpegangan tangan memberi semangat supaya mereka tabah. ”Tabahlah Gretel, Ibu yang ada di surga pasti melindungi kita “.
Suatu hari nenek mendekati penjara Hansel untuk melihat apakah tubuh Hansel sudah menjadi gemuk atau belum.
“Aku lapar, sudah seberapa gemuk tubuhmu, ayo ulurkan tanganmu! “
Hansel yang pintar tidak kehilangan akal, ia mengetahui kalau mata nenek sudah rabun segera dikeluarkannya tulang sisa makanan kepada nenek yang rabun lalu nenek memegangnya. Betapa kecewanya nenek karena sedikitpun Hansel tidak bertambah gemuk. Karena kecewa lalu ia bermaksud untuk memakan Gretel. Kemudian Gretel disuruh membakar roti. Selagi Gretel menyalakan api di tungku, si nenek mencoba mendorongnya ke nyala api. Untunglah Gretel mengetahui maksud nenek, cepat-cepat ia berbalik pergi ke depan tungku.
“Nek, aku tidak bisa membuka tutup tungku ini.” Nenek sihir tidak sadar kalau ia sedang diperdaya Gretel dan ia membuka tutup tungku.
Tanpa membuang kesempatan, Gretel mendorong nenek ke tungku. “Ahh… tolonggg…. panassss!” teriak nenek kesakitan. Gretel tidak memperdulikan teriakan nenek malah dengan cepat ia menutup pintu tungku, lalu berlari ke arah penjara untuk menolong Hansel.
“Gretel, kau berhasil. Ibu yang di surga telah melindungi kita.” Karena bahagia mereka berpelukan. Ketika akan pergi dari rumah kue tanpa sengaja mereka menemukan banyak harta karun. Setelah itu mereka keluar rumah, tetapi malang jalan itu terpotong oleh sungai besar.
Mereka menjadi bingung. Saat itu entah dari mana datangnya tiba-tiba muncul seekor angsa cantik. ”Ayo, naiklah ke punggungku, ” ucap angsa itu ramah. Satu per satu angsa itu mengantarkan mereka menyeberang sungai. Setelah sampai, angsa itu menunjukkan jalan bagi mereka berdua dari atas langit. Sampailah mereka di batas hutan. Tanpa mereka ketahui sebenarnya angsa itu adalah Ibu mereka yang ada di surga. Angsa itu kemudian menghilang. Setelah itu muncullah Ayah mereka yang sangat cemas.
“Anak-anakku tersayang, maafkanlah Ayah. Ayah tidak akan meninggalkan kalian lagi". Lalu Ayah menceritakan kepada mereka bahwa Ibu tiri yang jahat sudah meninggal karena sakit. Akhirnya mereka pun hidup bahagia selamanya. Sekian
Label:
Cerita Anak,
Dongeng
Matic Pustaka Pringsewu terima ratusan buku hibah dari UPT Perpustakaan Unila
![]() |
| Penyerahan buku oleh ketua panitia Hibah, Bapak Karjoso, S.Sos |
Matic Pustaka Pringsewu mendapat tambahan amunisi dari Perpustakaan Unila
Matic Pustaka. UPT Perpustakaan Universitas Lampung
menghibahkan puluhan ribu eksemplar buku ke beberapa instansi/lembaga dan komunitas
se-Lampung. Ini merupakan salah satu upaya pemerataan penyebaran koleksi yang
dimiliki oleh pihak Perpustakaan Unila karena kelebihan koleksi buku tercetak. Para
penerima hibah buku sangat antusias dalam menyambut kegiatan ini. Jumlah penerima
Hibah buku tercatat ada 42 titik yang tersebar di seluruh wilayah Provinsi
Lampung, meliputi Perpustakaan Perguruan Tinggi, Perpustakaan Sekolah, Taman
Baca, dan Perpustakaan Komunitas. Salah satu penerima hibah buku adalah dari
Komunitas Baca Matic Pustaka Pringsewu.
Ketua penyelenggara hibah buku Unila
Karjoso S. Sos, menyampaiakan kepada para penerima hibah buku, “semoga
buku-buku yang sudah dihibahkan kepada seluruh penerima bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya
oleh masyarakat yang membutuhkan.”
Hal senada juga disampaikan oleh Kepala
UPT Perpustakaan Unila DR. Eng. Mardiana, M.T, “bahwa kegiatan ini merupakan Barang Milik Negara (BMN) yang dimiliki oleh
UPT Perpustakaan Unila untuk dihibahkan kepada masyarakat di wilayah Lampung
yang membutuhkan bahan bacaan, semoga bisa dirasakan manfaatnya oleh seluruh
masyarakat penerima hibah.” Jumlah buku yg diterima oleh
masing-masing instansi berbeda, tergantung kebutuhan dan jumlah yg diusulkan.
Ucapan syukur terucap oleh ketua Komunitas Baca Matic Pustaka, Aminuddin. Ia mengatakan, "dengan adanya hibah buku ini,
selaku ketua komunitas mewakili masyarakat Pringsewu sangat berterima kasih
kepada UPT Perpustakaan Unila, semoga bisa menjadi tambahan semangat dalam
menyebarluaskan informasi melalui buku, khususnya di Kabupaten
Pringsewu dan tentunya berharap juga, semoga banyak masyarakat yang
memanfaatkannya" (Amd-MP)
DONGENG IKAN EMAS AJAIB
Matic Pustaka. Dongeng Ikan Emas Ajaib
Pada zaman dahulu kala, di sebuah pulau
bernama Buyan, tinggalah sepasang kakek dan nenek yang sangat miskin. Mata
pencaharian si kakek adalah mencari ikan di laut. Meski hampir setiap hari
kakek pergi menjala ikan, namun hasil yang didapat hanya cukup untuk makan
sehari-hari saja. Suatu hari ketika si kakek sedang menjala ikan, tiba-tiba
jalanya terasa sangat berat. Seperti ada ikan raksasa yang terperangkap di
dalamnya.
“Ah, pasti ikan yang sangat besar,” pikir si kakek.
Dengan sekuat tenaga si kakek menarik jalanya. Namun ternyata tidak ada apapun
kecuali seekor ikan kecil yang tersangkut di jalanya. Rupanya ikan kecil itu
bukan ikan biasa, badannya berkilau seperti emas dan bisa berbicara seperti
layaknya manusia.
“Kakek, tolong lepaskan aku. Aku akan mengabulkan semua permintaanmu!” kata si
ikan emas.
Si kakek berpikir sejenak, lalu katanya, “aku tidak memerlukan apapun darimu,
tapi aku akan melepaskanmu. Pergilah!”.
Kakek melepaskan ikan emas itu kembali ke laut, lalu dia pun kembali pulang.
Sesampainya di rumah, nenek menanyakan hasil tangkapan kakek.
“Hari ini aku hanya mendapatkan satu ekor ikan emas, dan itupun sudah aku lepas
kembali,” kata kakek, “aku yakin kalau itu adalah ikan ajaib, karena dia bisa
berbicara. Katanya dia akan memberiku imbalan jika aku mau melepaskannya.”
“Lalu apa yang kau minta,” tanya nenek.
“Tidak ada,” kata kakek.
“Oh, alangkah bodohnya!” seru nenek. “Setidaknya kau bisa meminta roti untuk
kita makan. Pergilah dan minta padanya!” Maka dengan segan kakek kembali ke
tepi pantai dan berseru:
Wahai ikan emas ajaib, datanglah kemari...
Kabulkan keinginan kami!
Tiba-tiba si ikan emas muncul di permukaan laut. “Apa yang kau inginkan, Kek?”
katanya.
“Istriku marah padaku, berikan aku roti untuk makan malam, maka dia akan
memaafkanku!” pinta si kakek.
“Pulanglah! Aku telah mengirimkan roti yang banyak ke rumahmu.” kata si ikan.
Maka pulanglah si kakek. Setibanya di rumah, didapatinya meja makan telah penuh
dengan roti.
Tapi istrinya masih tampak marah padanya, katanya:
“Kita telah punya banyak roti, tapi wastafel kita rusak, aku tidak bisa mencuci
piring. Pergilah kembali ke laut, dan mintalah ikan ajaib memberikan kita
wastafel yang baru!” kata nenek.
Terpaksa si kakek kembali ke tepi laut dan berseru:
Wahai ikan emas ajaib, datanglah kemari...
Kabulkan keinginan kami!
“ups!” ikan emas muncul, “Apa lagi yang kau inginkan, kek?”
“Nenek menyuruhku memintamu agar memberikan kami wastafel yang baru,” pinta
kakek.
“Baiklah,” kata ikan. “Kau boleh memiliki wastafel baru juga.”
Si kakek pun kembali pulang. Belum lagi menginjak halaman, si nenek sudah
menghadangnya. “Pergilah lagi! Mintalah pada si ikan emas untuk membuatkan kita
sebuah rumah baru. Kita tidak bisa tinggal di sini terus, rumah ini sudah
hampir roboh.”
Maka si kakek pun kembali ke tepi laut dan berseru:
Wahai ikan emas ajaib, datanglah kemari...
Kabulkan keinginan kami!
Dalam sekejap ikan emas itu muncul di hadapan si kakek, “apa yang kau inginkan
lagi, kakek?”
“Buatkanlah kami rumah baru!” pinta kakek, “istriku sangat marah, dia tidak
ingin tinggal di rumah kami yang lama karena rumah itu sudah hampir roboh.”
“Tenanglah kek! Pulanglah! Keinginanmu sudah kukabulkan.”
Kakek pun pulang. Sesampainya di rumah, dilihatnya bahwa rumahnya telah menjadi
baru. Rumah yang indah dan terbuat dari kayu yang kuat. Dan di depan pintu
rumah itu, nenek sedang menunggunya dengan wajah yang tampak jauh lebih marah
dari sebelumnya.
“Dasar kakek bodoh! Jangan kira aku akan merasa puas hanya dengan membuatkanku
rumah baru ini. Pergilah kembali, dan mintalah pada ikan emas itu bahwa aku
tidak mau menjadi istri nelayan. Aku ingin menjadi nyonya bangsawan. Sehingga
orang lain akan menuruti keinginanku dan menghormatiku!”
Untuk kesekian kalinya, si kakek kembali ke tepi laut dan berseru:
Wahai ikan emas ajaib, datanglah kemari...
Kabulkan keinginan kami!
Dalam sekejap ikan emas itu muncul di hadapan si kakek, “apa yang kau inginkan
lagi, kakek?”
“Istriku tidak bisa membuatku tenang. Dia bahkan semakin marah. Katanya dia
sudah lelah menjadi istri nelayan dan ingin menjadi nyonya bangsawan” pinta
kakek
“Baiklah. Pulanglah! Keinginanmu sudah dikabulkan!” kata ikan emas.
Alangkah terkejutnya si kakek ketika kembali ternyata kini rumahnya telah
berubah menjadi sebuah rumah yang megah. Terbuat dari batu yang kuat, tiga
lantai tingginya, dengan banyak sekali pelayan di dalamnya. Si kakek melihat
istrinya sedang duduk di sebuah kursi tinggi sibuk memberi perintah kepada para
pelayan.
“halo istriku,” sapa si kakek.
“Betapa tidak sopannya,” kata si nenek. “Berani sekali kau mengaku sebagai
suamiku. Pelayan! Bawa dia ke gudang dan beri dia 40 cambukan!”
Segera saja beberapa pelayan menyeret si kakek ke gudang dan mencambuknya
sampai si kakek hampir tidak bisa berdiri. Hari berikutnya istrinya
memerintahkan kakek untuk bekerja sebagai tukang kebun. Tugasnya adalah menyapu
halaman dan merawat kebun. “Dasar perempuan jahat!” pikir si kakek. “Aku sudah
memberikan dia keberuntungan tapi dia bahkan tidak mau mengakuiku sebagai
suaminya.”
Lama kelamaan si nenek bosan menjadi nyonya bangsawan, maka dia kembali
memanggil si kakek: “Hai lelaki tua, pergilah kembali kepada ikan emasmu dan
katakan ini padanya: aku tidak mau lagi menjadi nyonya bangsawan, aku mau
menjadi ratu.”
Maka kembalilah si kakek ke tepi laut dan berseru”
Wahai ikan emas ajaib, datanglah kemari...
Kabulkan keinginan kami!
Dalam sekejap ikan emas itu muncul di hadapan si kakek, “apa yang kau inginkan
lagi, kakek?”
“Istriku semakin keterlaluan. Dia tidak ingin lagi menjadi nyonya bangsawan,
tapi ingin menjadi ratu.”
“Baiklah. Pulanglah! Keinginanmu sudah dikabulkan!” kata ikan emas.
Sesampainya kakek di tempat dulu rumahnya berdiri, kini tampak olehnya sebuah
istana beratap emas dengan para penjaga berlalu lalang. Istrinya yang kini
berpakainan layaknya seorang ratu berdiri di balkon dikelilingi para jendral
dan gubernur. Dan begitu dia mengangkat tangannya, drum akan berbunyi diiringi
musik dan para tentara akan bersorak sorai.
Setelah sekian lama, si nenek kembali bosan menjadi seorang ratu. Maka dia
memerintahkan para jendral untuk menemukan si kakek dan membawanya ke
hadapannya. Seluruh istana sibuk mencari si kakek. Akhirnya mereka menemukan
kakek di kebun dan membawanya menghadap ratu.
“Dengar lelaki tua! Kau harus pergi menemui ikan emasmu! Katakan padanya bahwa
aku tidak mau lagi menjadi ratu. Aku mau menjadi dewi laut sehingga semua laut
dan ikan-ikan di seluruh dunia menuruti perintahku.”
Kakek terkejut mendengar permintaan istrinya, dia mencoba menolaknya. Tapi apa
daya nyawanya adalah taruhannya, maka dia terpaksa kembali ke tepi laut dan
berseru:
Wahai ikan emas ajaib, datanglah kemari...
Kabulkan keinginan kami!
Kali ini si ikan emas tidak muncul di hadapannya. Kakek mencoba memanggil lagi,
namun si ikan emas tetap tidak mau muncul di hadapannya. Dia mencoba memanggil
untuk ketiga kalinya. Tiba-tiba laut mulai bergolak dan bergemuruh. Dan ketika
mulai mereda muncullah si ikan emas, “apa yang kau inginkan lagi, kakek?”
“Istriku benar-benar telah menjadi gila,” kata kakek. “Dia tidak mau lagi
menjadi ratu tapi ingin menjadi dewi laut yang bisa mengatur lautan dan
memerintah semua ikan.”
Si ikan emas terdiam dan tanpa mengatakan apapun dia kembali menghilang ke
dalam laut. Si kakek pun terpaksa kembali pulang. Dia hampir tidak percaya pada
penglihatannya ketika menyadari bahwa istana yang megah dan semua isinya telah
hilang. Kini di tempat itu, berdiri sebuah gubuk reot yang dulu ditinggalinya.
Dan di dalamnya duduklah si nenek dengan pakaiannya yang compang-camping.
Mereka kembali hidup seperti dulu. Kakek kembali melaut. Namun seberapa kerasnya
pun kakek bekerja, hasil yang didapat hanya cukup untuk makan sehari-hari saja.
Label:
Cerita Anak,
Dongeng



















