NEW Literacy

Perpustakaan Komunitas di Pringsewu turut ambil bagian dalam pencanangan Kabupaten Literasi

Matic Pustaka.  Perpustakaan Komunitas di Pringsewu dukung pencanangan Kabupaten Literasi


Penyerahan simbolis hibah buku oleh bunda Literasi Pringsewu

Sejumlah pengelola Perpustakaan Komunitas yang ada di Kabupaten Pringsewu mengikuti upacara peringatan hari Sumpah Pemuda ke-91, Senin 28 Oktober 2019. Kegiatan upacara dilaksanakan di lapangan Pemda Kabupaten Pringsewu, bertindak sebagai inspektur upacara Bapak Wakil Bupati Pringsewu DR. H. Fauzi, S. Kom., Akt.

Dalam amanah upacara, beliau membacakan pesan dari Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia. Dalam isi surat tersebut, "pemuda merupakan tulang punggung negara. Sudah menjadi hal penting jika penanaman pekerti dan pembekalan pendidikan harus diberikan." Bersamaan dengan kegiatan upacara peringatan hari Sumpah Pemuda di Kabupaten Pringsewu, turut dideklarasikan Kabupaten Pringsewu sebagai Kabupaten Literasi serta pengukuhan bunda Literasi Kabupaten Pringsewu, Ibu Hj. Nurrochmah Sujadi oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Lampung. Semoga bisa amanah dan membawa perubahan positif/kemajuan khususnya dalam dunia pendidikan di Kabupaten Pringsewu.

Di sela-sela kegiatan pencanangan Kabupaten Pringsewu sebagai Kabupaten Literasi, hadir pula beberapa Perpustakaan Komunitas yang ada di Kabupaten Pringsewu. Dari seluruh komunitas yang ada, yang hadir di antaranya adalah Perpustakaan Matic, Gerobak Pustaka, Komunitas Baca Citra Lestari, Sewu Buku, Perpustakaan Anak, Perpustakaan Pon-pes, Pojok Baca Pemda, Pojok Baca Pangonan, dan Perpustakaan Pekon/Kelurahan. Mereka diundang dalam rangka penerimaan hibah buku secara simbolis yang berasal dari proses pengumpulan sejak bulan Agustus 2019 oleh panitia pencanangan. Karena dinilai mereka para pelaku literasi di lapangan mampu menyebarluaskan informasi positif yang terkandung dalam isi buku, baik secara langsung maupun secara bertahap. Sinergitas antar semua lini sangat diharapkan demi terwujudnya Pringsewu sebagai Kabupaten Literasi. (Amd-MP)


Semiloka Kepustakawanan Nasional V dan SNIPer 2019

Matic Pustaka. Semiloka Kepustakawanan Nasional V dan SNIPer 2019

Hotel Novotel Bandarlampung, 02-04 Oktober 2019.

Pustakawan dan Perpustakaan Berinovasi:
From Smart Librarian to Smart Society

Semiloka Nasional Kepustakawanan merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh organisasi pustakawan yaitu Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) di seluruh Indonesia. Baik dilakukan oleh pengurus wilayah, maupun diselenggarakan oleh pengurus pusat. Dalam kesempatan ini, di tahun 2019 yang menjadi penyelenggara kegiatan Semiloka Nasional Kepustakawanan, Lampung menjadi host/tuan rumah kegiatan. Peserta yang hadir pada kegiatan Semiloka Kepustakawanan berjumlah lebih dari 100 orang yang berasal dari perwakilan Perguruan Tinggi Negeri dan swasta di seluruh Indonesia. Sebagai salah satu anggota Forum, Perpustakaan Universitas Aisyah Pringsewu (UAP) turut serta dalam menyukseskan kegiatan dimaksud. Ada dua pilihan yang bisa diikuti oleh setiap peserta Semiloka, yang pertama menjadi presenter Call for Paper (CfP), dan pilihan yang kedua menjadi peserta aktif dalam kegiatan Semiloka.

Peserta Semiloka Kepustakawanan 2019


Selain dari kegiatan Semiloka Kepustakawanan, disela-sela kegiatan ini dilakukan penandatanganan naskah kerja sama (MoU) antara Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia yang terdaftar sebagai anggota FPPTI dengan Perpustakaan Nasional RI. Adapun tujuan dari MoU ini di antaranya adalah menyebarluaskan informasi/koleksi yang dimiliki oleh Perpustakaan Nasional RI, baik koleksi tercetak maupun elektronik. Selain itu, tujuan lain dari isi MoU adalah pemanfaatan akses jurnal yang dilanggan oleh Perpustakaan RI sebagai tambahan sumber literasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, serta promosi jasa perpustakaan. Sebagai salah satu peserta penandatangan naskah kerja sama, Universitas Aisyah Pringsewu hadir dan mengikuti prosesi penandatanganan MoU yang langsung dihadiri oleh rektor Universitas Aisyah Pringsewu, bapak Hardono, M.Kep.


Penandatanganan MoU dengan Perpustakaan Nasional RI


Tujuan mengikuti kegiatan Semiloka Nasional Kepustakawanan:
  1. Meningkatkan wawasan dan menambah ilmu/pengalaman dibidang ilmu perpustakaan dan informasi;
  2. Memperbanyak kenalan/relasi antar sesama peserta, khususnya para pengelola perpustakaan di seluruh Indonesia yang menjadi peserta kegiatan
  3. Turut serta mengembangkan organisasi profesi pustakawan;
  4. Networking, Sharing, Caring yang menjadi motto FPPTI
  5. Mendapatkan akses ke Perpustakaan Nasional RI melalui penandatanganan naskah kerja sama (MoU).


Bersama Rektor Universitas Aisyah Pringsewu. Hardono, M.Kep

Materi dan Narasumber:
  1. Kebijakan Ristekdikti tentang Pengembangan Karier Pustakawan Peguruan Tinggi di Indonesia (Prof. dr. Ali Gufron Mukti, Ph.D)
  2. “Evolving Role of Academic Libraries: Supporting the University and Beyond” (Ho Wei Jiang- Bussines Development Director APAC)
  3. Library of Congress Strtaegic Plan in Building Smart Society (Carol L. Mitchell, Ph.D Field Director U.S Library of Congress for Indonesia)
  4. Strategi Komunikasi Perpustakaan dalam Mewujudkan Smart Society (Prof. Dr. Karomani, M.Si-Universitas Lampung)
  5. Peran Perilaku Informasi dalam Mewujudkan Smart Society (Rahmi, Ph. D-Universitas Indonesia)
  6. Pustakawan dan Perpustakaan Berinovasi: “From Smart Librarian to Smart Society” (Drs. Syarif Bando, M.M-Kepala Perpustakaan Nasional RI)
  7. Smart Repository Berbasis Aplikasi VIVO (Duraspace) untuk Perpustakaan Perguruan Tinggi (Dwi Fajar Saputra, S.Sos., M.M)
  8. Workshop dan Board Game sebagai media pembelajaran Literasi Informasi (Dhama Gustiar Baskoro, S.S., M.Pd- Universitas Bina Nusantara) 
(Amd-MP)


DONGENG ISTANA PASIR

Matic Pustaka.
DONGENG ISTANA PASIR


Ulang tahun Luna

Luna, saudara Oki datang berlibur ke rumah Oki. Luna adalah seorang penyihir cilik. Wajahnya cantik. "Ki, besok aku berulang tahun. Itu sebabnya aku kesini. Aku ingin merayakannya disini." ujar Luna.


Wah, Oki pusing juga. Ia lalu berjalan ke pantai, sambil mencari ide. "Apa yang harus kulakukan untuk memeriahkan ulang tahun Luna?" pikir Oki sambil bermain pasir. Tanpa disadari, ia membuat sebuah istana dari pasir.



"Wah bagus sekali istana pasirmu?" ujar Luna yang tiba-tiba muncul. "Andai aku putri raja, tentu ulang tahunku dirayakan di istana. Asyik,ya!" Luna mengkhayal. "Ah aku ada akal!" gumam Oki seketika.
Oki lalu menemui Nirmala. Ia membisikkan sesuatu. "Oooo.... beres, Ki!" ujar Nirmala sambil tersenyum lebar. "Eh itu pak Dobleh! Kau juga bisa minta tolong padanya untuk membuat makanan!" saran Nirmala.



Oki lega karena pak Dobleh tak menolak permintaannya. "Akan kubuatkan makanan yang enak untuk pesta saudaramu!" janji pak Dobleh. Kini Oki mengundang teman-teman kurcacinya untuk datang ke pesta Luna.


Esoknya, pagi-pagi sekali Oki dan Nirmala ke pantai. Oki kembali membuat istana dari pasir. Lalu, "sim salabim!" Nirmala menyulap istana pasir itu menjadi istana betulan. Indah dan megah. "Wah Luna pasti senang!" seru Oki riang.



Wuah, lihatlah! Meriah sekali pesta ulang tahun Luna. Pak Dobleh menghidangkan makanan lezat di atas cangkang-cangkang kerang. Kurcaci-kurcaci datang membawa hadiah. Ratu bidadari pun datang. Ia menghadiahi Luna sebuah mahkota mungil. Hmmm... Luna jadi seperti putri raja kan? "Terima kasih, semuanya! Ini pesta ulang tahunku yang paling meriah!" gumam Luna bahagia.



DONGENG HANSEL DAN GRETEL


Matic Pustaka. Dongeng Hansel dan Gretel


Hansel dan Gretel

DONGENG HANSEL DAN GRETEL

Pada zaman dahulu di sebuah desa hiduplah sebuah keluarga bahagia. Mereka mempunyai dua orang anak yang manis, namanya Hansel dan Gretel. Suatu ketika Ibu tercinta meninggal karena sakit. Sejak kematian sang Ibu, mereka selalu bersedih sepanjang hari.

Agar mereka tidak bersedih, kemudian Ayah mengambil Ibu baru untuk menghibur mereka. Ternyata Ibu baru ini sangat jahat dan memperlakukan mereka dengan buruk. Dari pagi hingga petang mereka disuruh terus bekerja dan hanya diberi makan satu kali. Musim kemarau pun tiba, dan mereka tidak mempunyai makanan apa-apa. Sang Ibu menyuruh anak-anak untuk dibawa ke hutan dan meninggalkannya di sana.

Ayah sangat terkejut mendengarnya. ”Bicara apa kau, apa kau ingin anak-anak mati?“
”Kau ini memang jahat, kalau kita tidak melakukannya, kita semua akan mati!”
Sementara itu dari balik kamar , Hansel dan Gretel mendengarkan pembicaraan mereka. Mereka ketakutan dan Gretel pun menangis.

Akhirnya Ayah tidak bisa berbuat apa-apa karena istrinya terus mendesaknya.
“Ah… apa kita akan mati di hutan ?! “
” Ssst.., aku punya ide bagus, ” ucap Hansel. Lalu ia keluar rumah dan mengumpulkan batu-batu kecil putih yang bila terkena cahaya bulan, akan bersinar. Pada esok paginya dengan berteriak keras, Ibunya membangunkan Hansel dan Gretel. Sebelum berangkat ia memberikan sepotong roti kepada mereka. Setelah itu semua berangkat menuju hutan. Sambil berjalan Hansel membuang batu kecil putih satu per satu yang ada dalam kantongnya. Karena berjalan sambil menoleh ke belakang, Ayah menjadi curiga.
”Sedang apa, Hansel? “
”Aku sedang memandang kucing yang ada di atas rumah,” jawab Hansel berbohong. Lalu tibalah mereka di tengah hutan. Ayah dan Ibunya pergi ke hutan yang lebih jauh lagi untuk menebang kayu dan meninggalkan mereka.

Rasa sedihpun berganti gembira, setelah di tengah hutan Hansel menemukan seekor kupu-kupu dan Gretel membuat kalung dari bunga. Mereka sangat gembira karena bisa bermain-main bersama teman baru mereka seperti kelinci, bajing/tupai, dan burung-burung kecil. Tanpa terasa waktu berlalu, mataharipun mulai tenggelam dan hari mulai gelap. Suara burung-burung yang indah kini berganti dengan suara angin yang berdesir. Gretel menangis tersedu-sedu karena takut. Hansel berkata menenangkan, “Jangan menangis, jika cahaya bulan muncul, kita pasti akan pulang dengan selamat “.

Tak lama kemudian, dari sela-sela pohon muncullah cahaya bulan yang bersinar dengan terang. Hansel segera mengajak Gretel untuk pulang ke rumah.
Hansel memegang tangan Gretel dan menyusuri jalan di hutan tanpa ragu-ragu.
”Kak, bagaimana bisa berjalan tanpa bingung di hutan yang gelap seperti ini?”
“Oh… batu kecil putih yang kujatuhkan ketika kita datang, bersinar karena terkena sinar bulan dan itu akan menolong kita pulang ke rumah.”

Tibalah mereka di rumah, sang Ibu heran melihatnya dan mencari tahu bagaimana mereka bisa sampai di rumah dengan mudah. Ketika ia membuka pintu, ia melihat batu kecil putih yang bersinar. Agar mereka tidak bisa mengumpulkan batu putih itu lagi, Ibu mengunci pintu kamar mereka. Hansel dan Gretel menjadi panik karenanya. Sebelum tidur mereka berdoa pada Tuhan, meminta perlindungan.

Keesokan harinya seperti kemarin, Ibu membangunkan mereka dan membawa mereka ke hutan. Hansel tidak kehabisan akal. Dengan terpaksa ia mencuil-cuil potongan roti dan menjatuhkannya di jalan sambil berjalan.
Tapi malang, jejak yang sudah dIbuatnya susah payah dimakan oleh burung-burung kecil. Sampailah mereka di dalam hutan. Kembali Ayah dan Ibunya meninggalkan mereka dan masuk ke hutan yang lebih jauh.

Merekapun bermain-main dengan binatang-binatang di dalam hutan. Akhirnya malampun tiba. Ketika cahaya bulan mulai bersinar mereka beranjak pulang. Dengan susah payah dicarinya potongan-potongan roti sebagai petunjuk jalan untuk pulang ke rumah.
”Kak, apa yang telah terjadi dengan potongan-potongan roti itu ?” teriak Gretel cemas. ”Mungkin dimakan oleh burung -burung kecil “ ”Uhh.., kalau begitu kita tidak bisa pulang ke rumah.” Di dalam hutan bergema suara lolongan keras. Mereka berdua amat ketakutan. “Kak, aku takut, apa kita akan mati!” Gretel mulai menangis.
”Jangan khawatir dik, Ibu yang ada di surga pasti menolong kita.”

Karena lelah, mereka akhirnya tertidur dengan pulas di bawah pohon. Cahaya matahari pun mulai bersinar dan mengenai wajah mereka. Hansel dan Gretel terbangun dan disambut suara kicauan burung. Tiba-tiba mereka mencium bau masakan yang lezat. Segera mereka berlari ke arah datangnya bau lezat itu. Seperti mimpi mereka melihat rumah kue, atapnya terbuat dari tart, pintunya dari coklat, dan dindingnya dari biskuit. Cepat-cepat mereka mendekati rumah itu dan memakannya. Tiba-tiba terdengar suara keras yang bergetar. “Siapa itu, berani memakan rumah kue kesayanganku?”, muncullah seorang nenek sihir tua dengan wajah menyeramkan serta mata merah yang bersinar, lalu menangkap mereka berdua. ”Hi… Hi…. Hi…. anak-anak yang lezat, sebagai hukuman karena telah memakan rumput kue kesukaanku, aku akan memakan kalian.” Dengan kasar nenek sihir itu menyeret Hansel masuk ke dalam penjara.

Setelah itu ia berkata kepada Gretel, “Mula-mula aku akan menggemukkan anak laki-laki itu, lalu aku akan memakannya.“ “Sekarang kau buat makanan yang enak biar makannya banyak! “ Nenek sihir itu sudah tua sekali dan matanya mulai rabun. Pada saat itu Hansel dan Gretel saling berpegangan tangan memberi semangat supaya mereka tabah. ”Tabahlah Gretel, Ibu yang ada di surga pasti melindungi kita “.

Suatu hari nenek mendekati penjara Hansel untuk melihat apakah tubuh Hansel sudah menjadi gemuk atau belum.
“Aku lapar, sudah seberapa gemuk tubuhmu, ayo ulurkan tanganmu! “
Hansel yang pintar tidak kehilangan akal, ia mengetahui kalau mata nenek sudah rabun segera dikeluarkannya tulang sisa makanan kepada nenek yang rabun lalu nenek memegangnya. Betapa kecewanya nenek karena sedikitpun Hansel tidak bertambah gemuk. Karena kecewa lalu ia bermaksud untuk memakan Gretel. Kemudian Gretel disuruh membakar roti. Selagi Gretel menyalakan api di tungku, si nenek mencoba mendorongnya ke nyala api. Untunglah Gretel mengetahui maksud nenek, cepat-cepat ia berbalik pergi ke depan tungku.

“Nek, aku tidak bisa membuka tutup tungku ini.” Nenek sihir tidak sadar kalau ia sedang diperdaya Gretel dan ia membuka tutup tungku.
Tanpa membuang kesempatan, Gretel mendorong nenek ke tungku. “Ahh… tolonggg…. panassss!” teriak nenek kesakitan. Gretel tidak memperdulikan teriakan nenek malah dengan cepat ia menutup pintu tungku, lalu berlari ke arah penjara untuk menolong Hansel.
“Gretel, kau berhasil. Ibu yang di surga telah melindungi kita.” Karena bahagia mereka berpelukan. Ketika akan pergi dari rumah kue tanpa sengaja mereka menemukan banyak harta karun. Setelah itu mereka keluar rumah, tetapi malang jalan itu terpotong oleh sungai besar. 

Mereka menjadi bingung. Saat itu entah dari mana datangnya tiba-tiba muncul seekor angsa cantik. ”Ayo, naiklah ke punggungku, ” ucap angsa itu ramah. Satu per satu angsa itu mengantarkan mereka menyeberang sungai. Setelah sampai, angsa itu menunjukkan jalan bagi mereka berdua dari atas langit. Sampailah mereka di batas hutan. Tanpa mereka ketahui sebenarnya angsa itu adalah Ibu mereka yang ada di surga. Angsa itu kemudian menghilang. Setelah itu muncullah Ayah mereka yang sangat cemas.
“Anak-anakku tersayang, maafkanlah Ayah. Ayah tidak akan meninggalkan kalian lagi". Lalu Ayah menceritakan kepada mereka bahwa Ibu tiri yang jahat sudah meninggal karena sakit. Akhirnya mereka pun hidup bahagia selamanya. Sekian

Matic Pustaka Pringsewu terima ratusan buku hibah dari UPT Perpustakaan Unila

Penyerahan buku oleh ketua panitia Hibah, Bapak Karjoso, S.Sos

Matic Pustaka Pringsewu mendapat tambahan amunisi dari Perpustakaan Unila

Matic PustakaUPT Perpustakaan Universitas Lampung menghibahkan puluhan ribu eksemplar buku ke beberapa instansi/lembaga dan komunitas se-Lampung. Ini merupakan salah satu upaya pemerataan penyebaran koleksi yang dimiliki oleh pihak Perpustakaan Unila karena kelebihan koleksi buku tercetak. Para penerima hibah buku sangat antusias dalam menyambut kegiatan ini. Jumlah penerima Hibah buku tercatat ada 42 titik yang tersebar di seluruh wilayah Provinsi Lampung, meliputi Perpustakaan Perguruan Tinggi, Perpustakaan Sekolah, Taman Baca, dan Perpustakaan Komunitas. Salah satu penerima hibah buku adalah dari Komunitas Baca Matic Pustaka Pringsewu.

Ketua penyelenggara hibah buku Unila Karjoso S. Sos, menyampaiakan kepada para penerima hibah buku, “semoga buku-buku yang sudah dihibahkan kepada seluruh penerima bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh masyarakat yang membutuhkan.”

Hal senada juga disampaikan oleh Kepala UPT Perpustakaan Unila DR. Eng. Mardiana, M.T, “bahwa kegiatan ini merupakan Barang Milik Negara (BMN) yang dimiliki oleh UPT Perpustakaan Unila untuk dihibahkan kepada masyarakat di wilayah Lampung yang membutuhkan bahan bacaan, semoga bisa dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat penerima hibah.” Jumlah buku yg diterima oleh masing-masing instansi berbeda, tergantung kebutuhan dan jumlah yg diusulkan.

Ucapan syukur terucap oleh ketua Komunitas Baca Matic Pustaka, Aminuddin. Ia mengatakan, "dengan adanya hibah buku ini, selaku ketua komunitas mewakili masyarakat Pringsewu sangat berterima kasih kepada UPT Perpustakaan Unila, semoga bisa menjadi tambahan semangat dalam menyebarluaskan informasi melalui buku,  khususnya di Kabupaten Pringsewu dan tentunya berharap juga, semoga banyak masyarakat yang memanfaatkannya" (Amd-MP)

DONGENG IKAN EMAS AJAIB

Matic Pustaka. Dongeng Ikan Emas Ajaib


Pada zaman dahulu kala, di sebuah pulau bernama Buyan, tinggalah sepasang kakek dan nenek yang sangat miskin. Mata pencaharian si kakek adalah mencari ikan di laut. Meski hampir setiap hari kakek pergi menjala ikan, namun hasil yang didapat hanya cukup untuk makan sehari-hari saja. Suatu hari ketika si kakek sedang menjala ikan, tiba-tiba jalanya terasa sangat berat. Seperti ada ikan raksasa yang terperangkap di dalamnya.
“Ah, pasti ikan yang sangat besar,” pikir si kakek.

Dengan sekuat tenaga si kakek menarik jalanya. Namun ternyata tidak ada apapun kecuali seekor ikan kecil yang tersangkut di jalanya. Rupanya ikan kecil itu bukan ikan biasa, badannya berkilau seperti emas dan bisa berbicara seperti layaknya manusia.


“Kakek, tolong lepaskan aku. Aku akan mengabulkan semua permintaanmu!” kata si ikan emas.
Si kakek berpikir sejenak, lalu katanya, “aku tidak memerlukan apapun darimu, tapi aku akan melepaskanmu. Pergilah!”.
Kakek melepaskan ikan emas itu kembali ke laut, lalu dia pun kembali pulang. Sesampainya di rumah, nenek menanyakan hasil tangkapan kakek.


“Hari ini aku hanya mendapatkan satu ekor ikan emas, dan itupun sudah aku lepas kembali,” kata kakek, “aku yakin kalau itu adalah ikan ajaib, karena dia bisa berbicara. Katanya dia akan memberiku imbalan jika aku mau melepaskannya.”



“Lalu apa yang kau minta,” tanya nenek.
“Tidak ada,” kata kakek.
“Oh, alangkah bodohnya!” seru nenek. “Setidaknya kau bisa meminta roti untuk kita makan. Pergilah dan minta padanya!” Maka dengan segan kakek kembali ke tepi pantai dan berseru:

Wahai ikan emas ajaib, datanglah kemari...
Kabulkan keinginan kami!

Tiba-tiba si ikan emas muncul di permukaan laut. “Apa yang kau inginkan, Kek?” katanya.
“Istriku marah padaku, berikan aku roti untuk makan malam, maka dia akan memaafkanku!” pinta si kakek.
“Pulanglah! Aku telah mengirimkan roti yang banyak ke rumahmu.” kata si ikan.
Maka pulanglah si kakek. Setibanya di rumah, didapatinya meja makan telah penuh dengan roti.
Tapi istrinya masih tampak marah padanya, katanya:
“Kita telah punya banyak roti, tapi wastafel kita rusak, aku tidak bisa mencuci piring. Pergilah kembali ke laut, dan mintalah ikan ajaib memberikan kita wastafel yang baru!” kata nenek.
Terpaksa si kakek kembali ke tepi laut dan berseru:

Wahai ikan emas ajaib, datanglah kemari...
Kabulkan keinginan kami!

“ups!” ikan emas muncul, “Apa lagi yang kau inginkan, kek?”
“Nenek menyuruhku memintamu agar memberikan kami wastafel yang baru,” pinta kakek.
“Baiklah,” kata ikan. “Kau boleh memiliki wastafel baru juga.”
Si kakek pun kembali pulang. Belum lagi menginjak halaman, si nenek sudah menghadangnya. “Pergilah lagi! Mintalah pada si ikan emas untuk membuatkan kita sebuah rumah baru. Kita tidak bisa tinggal di sini terus, rumah ini sudah hampir roboh.”
Maka si kakek pun kembali ke tepi laut dan berseru:

Wahai ikan emas ajaib, datanglah kemari...
Kabulkan keinginan kami!

Dalam sekejap ikan emas itu muncul di hadapan si kakek, “apa yang kau inginkan lagi, kakek?”
“Buatkanlah kami rumah baru!” pinta kakek, “istriku sangat marah, dia tidak ingin tinggal di rumah kami yang lama karena rumah itu sudah hampir roboh.”
“Tenanglah kek! Pulanglah! Keinginanmu sudah kukabulkan.”
Kakek pun pulang. Sesampainya di rumah, dilihatnya bahwa rumahnya telah menjadi baru. Rumah yang indah dan terbuat dari kayu yang kuat. Dan di depan pintu rumah itu, nenek sedang menunggunya dengan wajah yang tampak jauh lebih marah dari sebelumnya.
“Dasar kakek bodoh! Jangan kira aku akan merasa puas hanya dengan membuatkanku rumah baru ini. Pergilah kembali, dan mintalah pada ikan emas itu bahwa aku tidak mau menjadi istri nelayan. Aku ingin menjadi nyonya bangsawan. Sehingga orang lain akan menuruti keinginanku dan menghormatiku!”
Untuk kesekian kalinya, si kakek kembali ke tepi laut dan berseru:

Wahai ikan emas ajaib, datanglah kemari...
Kabulkan keinginan kami!

Dalam sekejap ikan emas itu muncul di hadapan si kakek, “apa yang kau inginkan lagi, kakek?”
“Istriku tidak bisa membuatku tenang. Dia bahkan semakin marah. Katanya dia sudah lelah menjadi istri nelayan dan ingin menjadi nyonya bangsawan” pinta kakek
“Baiklah. Pulanglah! Keinginanmu sudah dikabulkan!” kata ikan emas.
Alangkah terkejutnya si kakek ketika kembali ternyata kini rumahnya telah berubah menjadi sebuah rumah yang megah. Terbuat dari batu yang kuat, tiga lantai tingginya, dengan banyak sekali pelayan di dalamnya. Si kakek melihat istrinya sedang duduk di sebuah kursi tinggi sibuk memberi perintah kepada para pelayan.
“halo istriku,” sapa si kakek.
“Betapa tidak sopannya,” kata si nenek. “Berani sekali kau mengaku sebagai suamiku. Pelayan! Bawa dia ke gudang dan beri dia 40 cambukan!”
Segera saja beberapa pelayan menyeret si kakek ke gudang dan mencambuknya sampai si kakek hampir tidak bisa berdiri. Hari berikutnya istrinya memerintahkan kakek untuk bekerja sebagai tukang kebun. Tugasnya adalah menyapu halaman dan merawat kebun. “Dasar perempuan jahat!” pikir si kakek. “Aku sudah memberikan dia keberuntungan tapi dia bahkan tidak mau mengakuiku sebagai suaminya.”
Lama kelamaan si nenek bosan menjadi nyonya bangsawan, maka dia kembali memanggil si kakek: “Hai lelaki tua, pergilah kembali kepada ikan emasmu dan katakan ini padanya: aku tidak mau lagi menjadi nyonya bangsawan, aku mau menjadi ratu.”
Maka kembalilah si kakek ke tepi laut dan berseru”

Wahai ikan emas ajaib, datanglah kemari...
Kabulkan keinginan kami!

Dalam sekejap ikan emas itu muncul di hadapan si kakek, “apa yang kau inginkan lagi, kakek?”
“Istriku semakin keterlaluan. Dia tidak ingin lagi menjadi nyonya bangsawan, tapi ingin menjadi ratu.”
“Baiklah. Pulanglah! Keinginanmu sudah dikabulkan!” kata ikan emas.
Sesampainya kakek di tempat dulu rumahnya berdiri, kini tampak olehnya sebuah istana beratap emas dengan para penjaga berlalu lalang. Istrinya yang kini berpakainan layaknya seorang ratu berdiri di balkon dikelilingi para jendral dan gubernur. Dan begitu dia mengangkat tangannya, drum akan berbunyi diiringi musik dan para tentara akan bersorak sorai.
Setelah sekian lama, si nenek kembali bosan menjadi seorang ratu. Maka dia memerintahkan para jendral untuk menemukan si kakek dan membawanya ke hadapannya. Seluruh istana sibuk mencari si kakek. Akhirnya mereka menemukan kakek di kebun dan membawanya menghadap ratu.
“Dengar lelaki tua! Kau harus pergi menemui ikan emasmu! Katakan padanya bahwa aku tidak mau lagi menjadi ratu. Aku mau menjadi dewi laut sehingga semua laut dan ikan-ikan di seluruh dunia menuruti perintahku.”
Kakek terkejut mendengar permintaan istrinya, dia mencoba menolaknya. Tapi apa daya nyawanya adalah taruhannya, maka dia terpaksa kembali ke tepi laut dan berseru:

Wahai ikan emas ajaib, datanglah kemari...
Kabulkan keinginan kami!

Kali ini si ikan emas tidak muncul di hadapannya. Kakek mencoba memanggil lagi, namun si ikan emas tetap tidak mau muncul di hadapannya. Dia mencoba memanggil untuk ketiga kalinya. Tiba-tiba laut mulai bergolak dan bergemuruh. Dan ketika mulai mereda muncullah si ikan emas, “apa yang kau inginkan lagi, kakek?”
“Istriku benar-benar telah menjadi gila,” kata kakek. “Dia tidak mau lagi menjadi ratu tapi ingin menjadi dewi laut yang bisa mengatur lautan dan memerintah semua ikan.”
Si ikan emas terdiam dan tanpa mengatakan apapun dia kembali menghilang ke dalam laut. Si kakek pun terpaksa kembali pulang. Dia hampir tidak percaya pada penglihatannya ketika menyadari bahwa istana yang megah dan semua isinya telah hilang. Kini di tempat itu, berdiri sebuah gubuk reot yang dulu ditinggalinya. Dan di dalamnya duduklah si nenek dengan pakaiannya yang compang-camping. Mereka kembali hidup seperti dulu. Kakek kembali melaut. Namun seberapa kerasnya pun kakek bekerja, hasil yang didapat hanya cukup untuk makan sehari-hari saja.

DONGENG TELUR EMAS

Matic Pustaka. Dongeng Telur Emas






Di suatu desa ada sepasang suami istri serakah yang membeli seekor ayam yang aneh. Ketika sampai di rumah mereka kehabisan uang. Tiba-tiba ayam itu mengeluarkan sebutir telur emas. Mereka berdua sangat girang lalu menjual telur itu. Kini setiap hari mereka selalu hidup dengan mewah, sehingga uangnya cepat menjadi habis.
Di rumah sudah tak ada persediaan roti sekerat pun. Dan lagi, ayam itu sekarang sudah tidak mengeluarkan telur emas.
"Kalau begitu tak salah lagi, pasti di perut ini ada telur emas, yuk kita potong perutnya," kata sang istri.

"Wah, kau cerdik sekali!" kata sang suami menyetujui usul istrinya.
Si istri memegangi kepalanya, dan si suami mulai menyembelih ayam itu dengan pisau dapur.

"Hei kau, mulai sekarang kita akan hidup enak setiap hari," kata sang suami.
Setelah suami istri memotong perut ayam itu, mereka mencari telur dengan perasaan harap-harap gembira. Tetapi tak ada satupun telur dalam perut ayam itu. Kini, ayam mereka mati, dan tak bisa bertelur lagi.

Jadi pembelajaran yang dapat kita teladani dari dongeng Telur Emas ini adalah:

Kalau terlalu serakah, akhirnya akan kehilangan semuanya.
 
Support : KANG ERMAN | Johny Template | SIGER POS
Copyright © 2016. MATIC PUSTAKA - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger