NEW Literacy

Sosialisasikan Literasi, Perpustakaan Komunitas bersama dengan IPI adakan seminar Pendidikan

Matic Pustaka. Saling support sesama elemen dalam mewujudkan satu tujuan bersama yaitu masyarakat melek informasi dan cerdas berliterasi. Organisasi profesi pustakawan IPI Kabupaten Pringsewu bersama dengan komunitas Perpustakaan Bergerak adakan sosialisasi kepada masyarakat dalam Seminar Pendidikan, diantara peserta yang hadir dalam acara tersebut adalah para guru yang bertugas di perpustakaan sekolah, pengelola Perpustakaan Desa, Taman Bacaan serta para relawan Perpustakaan Komunitas/Keliling. Menghadirkan nara sumber yang kompeten dibidangnya, Ketua Forum Literasi Lampung dan Ketua IPI Provinsi Lampung memberikan beberapa materi yang berisi tentang literasi, perpustakaan, dan minat baca masyarakat.


Ketua Forum Literasi Lampung, Ibu Eni Amaliah

Kegiatan ini bertujuan untuk mewujudkan masyarakat agar lebih mencintai buku, bisa mendayagunakan kemampuannya masing-masing kepada hal yang positif sebagai bekal berkelanjutan di masa mendatang, khususnya di Kabupaten Pringsewu. Selain dari tujuan tersebut, lebih khusus disampaikan dalam pemaparan materi oleh ketua Forum Literasi Lampung agar melakukan pembinaan minat baca dari lingkungan terdekat seperti keluarga, tetangga, siswa di sekolahnya dan masyarakat. Di lain materi yang disampaikan, ketua IPI Provinsi berpesan agar para pengelola perpustakaan dan relawan yang sudah berkegiatan untuk dimaksimalkan lagi dan selalu menjaga semangat konsistenitasnya, supaya penyebaran informasi yang sudah berjalan bisa mencapai pemerataan masyarakat luas.

Anggota Komunitas Pustaka Bergerak pada saat sharing literasi.

Komunitas Perpustakaan Bergerak sendiri membagikan pengalaman dan sedikit motivasi kepada para peserta dalam menjalankan aksinya. Semua berawal dari niat, yang diikuti dengan tindakan positif sehingga bisa menghasilkan sebuah karya atau bentuk kegiatan untuk masyarakat, walaupun masih sangat sederhana. Harapannya dengan selesainya kegiatan ini bisa tumbuh lebih banyak para relawan yang menyalurkan ide-idenya melalui kegiatan literasi secara luas.

Sepenggal kisah dalam perjalanan menebarkan buku-buku bekas.

Matic Pustaka. Sepenggal kisah dalam perjalanan menebarkan buku-buku bekas.

Bismillahirrohmaanirrohiim
Tabik pun,
Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT yg masih memberikan kenikmatan, kesehatan, kesempatan kepada kita semua dalam melakukan aktivitas dan rutinitas. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada suri tauladan kita nabi Muhammad SAW yg selalu kita nantikan syafaat pertolongannya kelak di yaumil qiyyamah. Aamiin.

Tiada hentinya saya mengucapkan rasa syukur ini atas apresiasi dari semua pihak yg telah berperan dalam kegiatan sederhana ini, tepatnya pada hari Senin 22 Januari 2018 ada salah seorang member di grup media sosial Facebook Pringsewu Community mengunggah cuplikan gambar dokumentasi saya ketika melakukan kegiatan perpustakaan keliling pada salah satu tempat menimba ilmu agama (mengaji) di Dusun Karang Kembang Pekon Margakaya Kecamatan Pringsewu, ketika itu anak-anak selesai mengaji kemudian Matic Pustaka datang dengan membawa obrok bekas berisi beberapa buku bacaan yg sudah disiapkan. Alhamdulillah tanpa skenario ataupun setting suasana mereka mengerubuti gerobokan yang isinya buku sambil berebut dan saling raih mana buku bacaan yg disukainya. Ada salah seorang awak media meliput kegiatan saya dan baru kemarin bisa tayang di stasiun TV swasta di tanah air. Bukan saya merasa bangga dengan keberadaan saya bisa masuk TV, namun yang saya harapkan adalah dengan kondisi dan kegiatan kecil kami, harapan yang pertama bisa menularkan kepada rekan-rekan pemerhati/relawan/aktifis di bidang sosial ataupun literasi untuk bisa bersama-sama melakukan kegiatan yg mungkin bisa mendatangkan manfaat kepada masyarakat, khususnya anak-anak.

Selain itu juga, harapannya dengan kegiatan ini, anak-anak dan masyarakat bisa merasakan dan menikmati buku bacaan yg mungkin sebelumnya mereka susah mengaksesnya karena tidak ada fasilitas perpustakaan. Atau jika ingin membeli buku bacaan sayang akan uangnya, lebih baik untuk membeli bahan makanan (beras). Itulah potret nyata kehidupan di perkampungan yg sejatinya masih memiliki daya tarik yang cukup bagus untuk membaca buku, namun karena keterbatasan koleksi dan akses ke perpustakaan yang sulit, sehingga mereka dicap minat baca rendah.

Tugas siapa ini? Tanggung jawab siapakah ini? Jawabannya ini adalah kita semua yang harus mencari solusi dan jalan keluar. Ketika kita saling menyalahkan satu sama lain dan membela diri masing-masing, kita yakin tidak akan selesai permasalahan pendidikan ini. Oleh karena itu, mari kita semua bergandengan tangan, bahu membahu dan saling support untuk sebuah harapan mulia menjadikan generasi yang cerdas dimulai dari kebiasaan membaca dan menulis sejak dini. Menyediakan fasilitas bacaan, mendekatkan buku kepada masyarakat, dan melayankannya dengan tulus tanpa mengharap pujian dan sanjungan dari orang lain, doa dan support dari teman-teman adalah kekuatan. Senyum anak-anak menjadikan kepuasan dan kebahagiaan tersendiri bagi kami. Hanya bermodal niat yang tulus dan semangat juang bisa untuk mengawali kegiatan seperti ini. Akhirnya kami haturkan terima kasih kepada semua pihak yg telah berpartisipasi dan berdonasi terhadap kegiatan kami. Tak lupa kepada teman media yang sudi mengikuti kegiatan kami sehingga bisa diketahui keberadaannya kepada masyarakat luas. Jangan pernah bosan dan lelah untuk berbuat baik. Salam


 


Berbuatlah sesuatu atau kau akan begitu saja

Matic Pustaka. Pastinya setiap diri kita menginginkan kedamaian dan kebahagiaan bersama keluarga terkasih. Kedamaian yang dimaksud adalah dalam konteks luas, damai menjalani pekerjaan, rutinitas sehari-hari, bersosialisasi dengan tetangga dan keluarga serta damai menunaikan ibadah. Cara mendapatkan sebuah kedamaian dan kebahagiaan untuk setiap orang tentunya berbeda antara satu dengan yang lain. Semua didasari oleh alasan dan faktor tertentu, semisal karena hobi ataupun kesenangan, karena tuntutan hidup yang memang harus dijalani, bisa juga sebab mendapat motivasi dari seseorang, atau bahkan karena didasari rasa keterpaksaan sehingga bisa menjadi sebuah tujuan dari kebahagiaan itu sendiri.


Ketekunan serta rasa konsisten dalam menjalani rutinitas menjadi sebuah tolok ukur untuk pencapaian sebuah tujuan yang sangat ideal diharapkan. Tentu tidak serta merta berjalan lancar dan mulus layaknya seseorang berkendara di jalan tol. Akan tetapi adanya hambatan dan rintangan boleh jadi menambah semangat dan tertantang untuk meraih tujuan dari kebahagiaan dan kedamaian yang hakiki.

Kebosanan seringkali kita alami hampir disetiap rutinitas, sekalipun itu rutinitas pokok kita. Tidak dapat kita hindarkan dari kehidupan yang kita jalani setiap saat. Pemantik dari semangat berkarya adalah adanya sebuah tujuan kepuasan yang kita peroleh. Baik berupa materi, finansial, bathiniah, maupun hanya kepuasan sesaat yang akan segera sirna bersama perginya rasa lelah kita.

Pasang-surut laksana air laut di hamparan samudera, mungkin seperti itu ungkapan klasik yang bisa menggambarkan kondisi hati dan semangat juang seseorang dalam menapaki kehidupan. Oleh karenanya, sebagai pelaku di dunia nyata ini hendaknya kita selalu berusaha memantaskan diri pada setiap posisi yang sudah kita ilhami sejak awal menemukan pencerahan. Selalu berupaya agar tetap bisa istiqomah mempertahankan hal baik kita kepada siapapun. Memberikan pelayanan yang terbaik menurut kemampuan kita masing-masing, serta tidak mencerminkan mental pecundang yang hanya bisa berkeluh-kesah meratapi masa lalu. Tatap masa depan dengan penuh harapan, singkirkan duri-duri penghalang di hadapan yang menghadang. Terus berjuang memberikan yang terbaik kepada setiap orang. Salam santun.

Penyemangat dalam menjalani rutinitas keseharian #keluarga

Matic Pustaka. Problematika rumah tangga selalu hadir mewarnai setiap insan yang menginginkan sebuah kebahagiaan hidup. Selain menjadi tujuan dari menjalani bahtera rumah tangga, kebahagiaan juga menjadi tolok ukur yang susah untuk didefinisikan. Akan banyak arti yang bermunculan ketika diberikan jajak pendapat kepada siapapun mereka tentang "bahagia". Kemana kita akan kembali? 
Keluarga adalah tempat terdekat kita untuk menumpahkan segala perasaan jasmaniah kita setelah seharian bekerja memenuhi kebutuhan diri dan anggota keluarga, dan kepada sang maha Pemilik Segala kita akan kembali untuk selamanya.


Untuk mendapatkan tujuan hidup yang sejatinya, memanglah tidak semudah seperti apa yang kita pikirkan sesaat. Perlu banyak upaya-upaya maksimal dalam meraih sebuah tujuan hidup bahagia. Seperti yang tertulis pada sampul buku berjudul "Bahagia itu wajib!: Hidup Bahagia, Mati Masuk Surga". Adanya penekanan dengan tanda baca "!", mengajak kepada kita semua seolah ini adalah perintah atau ajakan yang kudu kita ikuti. Siapakah orangnya yang tidak ingin bahagia? Tentu kita semua menginginkan hidup bahagia bukan? Jika ada yang tidak ingin bahagia, maka perlu diperiksakan ke dokter psikologi, jangan-jangan. Hehehe...
Pantaskan diri untuk meraih kebahagiaan yang sesungguhnya, tidak silau dengan hal yang sudah didapatkan oleh orang lain dan belum bisa kita dapatkan. Karena untuk menilai kebahagiaan, bukan semata dari kebendaan. Namun, jauh lebih banyak di luaran sana sarana kebahagiaan yang dapat kita peroleh. Keep spirit and smile.

Taman Kalpataru Pendopo Pringsewu, tempat alternative pelayanan lapak baca Matic Pustaka

Matic Pustaka. Sore hari selepas Ashar hingga menjelang waktu Maghrib tiba, gelaran lapak baca Matic Pustaka mewarnai Taman Kalpataru di komplek Pendopo Kota Pringsewu. Sesuai dengan jam layan waktu itu, buka setiap hari Sabtu dan Minggu antara pukul 16:00 hingga menjelang Maghrib. Memanfaatkan waktu luang pada sebagian orang bisa dihabiskan untuk sekedar membaca ataupun menyenangkan buah hatinya, selain tersedia berbagai wahana permainan, juga ada sebuah taman yang memang dirancang untuk sekadar bersantai menghabiskan weekend bersama orang-orang terkasih. 
Tak mau ketinggalan ambil peran, di sela kerumunan banyak orang bersantai di bawah pohon Kalpataru belakang Pendopo, Perpustakaan Keliling Matic Pustaka melakukan aksinya dengan menggelar lapak baca diperuntukkan kepada semua pengunjung tanpa membedakan usia, suku, dan agama. 

Area lapak baca di Taman Kalpataru Pendopo Sabtu/Minggu sore
Menawarkan bacaan kepada masyarakat tidaklah semudah seperti menawarkan barang dagangan layaknya pedagang. Perlu pendekatan khusu dengan bahasa yang halus supaya mereka mau mendekat dan akhirnya memegang buku untuk dibaca. Lain hal jika dengan menawarkan barang dagangan, kita bisa saja melakukan demonstrasi produk apa yang kita promosikan kepada masyarakat. Namun disinilah letak kepuasan manakala ada seseorang yang mau mendekat dan mengambil buku walaupun hanya dibaca sebagian saja. Apalagi sampai mau meminjam buku untuk diselesaikan baca di rumah, sesuatu banget rasanya.
Rutinitas ini sempat bertahan lebih kurang satu tahun semenjak pengoperasional Matic Pustaka pertama kali. Selebihnya melayani peminjaman di lingkungan sekitar, karena anak-anak banyak yang memiliki waktu luang selepas pulang mengaji. 

Dalam melakukan gelaran lapak baca Matic Pustaka, biasanya dilakukan sendiri oleh owner Matic Pustaka. Terlepas dari itu, jika ada teman yang berkeinginan untuk membantu dengan senang hati dipersilakan. Melihat kembali tingkat kesibukan dan kebutuhan dari kegiatan tersebut. Selain menyuguhkan bahan bacaan, Matic Pustaka juga membuka ruang diskusi seputaran : Pendirian Perpustakaan/Taman Baca, Literasi Dasar, Kegiatan Sosial Pendidikan yang berkaitan dengan minat baca anak dan masyarakat, seperti pelatihan, seminar, workshop dan lomba-lomba. 

Penghambaan kepada sang Khalik


Untuk mengenal lebih dekat tentang keesaan Allah Aza Wajala, perlu bekal yang memadai. Karena tanpa adanya bekal, atau berbekal namun seadanya, bisa dipastikan lemahnya iman dan hubungan dengan sang pencipta kian jauh. Adapun beberapa kiat untuk mempertebal rasa keimanan dengan mengesakan Allah, di antaranya dengan banyak mengikuti kajian-kajian tentang pengesaan Allah.

Atau dengan menimba ilmu melalui buku-buku yang berkaitan dengan tauhid. Buku Kitab Tauhid karangan Syaikh Muhammad at-Tamimi dikemas dengan bahasa yang sederhana sehingga mudah untuk dibaca oleh semua kalangan yang hendak mengkhususkan ibadah kepada Allah. Buku tersebut bisa didapatkan di ruang koleksi Matic Pustaka Pringsewu.

Liburan di rumah saja ada hiburan, ala Matic Pustaka

Matic Pustaka. Libur panjang hari raya umat Kristiani tidak lantas membuat kami mencari tempat liburan layaknya orang-orang pada umumnya. Di rumah saja pun bisa membuat kami terhibur di hari libur. Beberapa pekerjaan rumah yang sempat tertunda belum terselesaikan menjadi sasaran kami untuk mengisi hari libur bersama anak dan isteri. Sesuai dengan target dan harapan di awal tahun 2018 dalam pengelolaan Matic Pustaka Perpustakaan Keliling yang kami jalankan, di antaranya adalah penertiban administrasi koleksi, buku induk, buku peminjaman, serta beberapa pengembangan manajemen baru tergarap sekitar 80% dari rencana awal. Oleh karena itu, sebelum pergantian tahun 2019 sebisa mungkin akan kami kerjakan berdasarkan kemampuan yang ada.

Suasana identifikasi buku-buku koleksi Matic Pustaka bersama keluarga

Pagi itu, beberapa kardus berisi puluhan buku bacaan sudah kami keluarkan dari sebuah kamar. Rencananya akan kami cross check keadaan buku yang sudah hampir satu semester berada di dalam kardus yang lembab. Yah, ternyata benar dugaan kami kardusnya saja yang lapuk termakan hawa lembab. Untungnya buku-buku yang ada di dalamnya masih utuh tanpa ada yang rusak satu pun. Itu karena di dalam kardus sebelum dimasukkan buku, sempat kami lapisi plastik sebagai alas yang bertujuan menghindari kontak langsung antara buku dengan lantai dasar. Sehingga dapat meminimalisir proses pelapukan bahan pustaka (buku). Salah satu kerusakan buku adalah faktor cuaca/iklim. Cuaca yang lembab tidak hanya merusak buku, tetapi juga membuat tempat bersembunyi kutu dan serangga lainnya di dalam buku. Oleh sebab itu, untuk semua orang, khususnya pustakawan diharapkan untuk mengecek secara berkala keadaan ruangan. Jika memang dirasa lembab, bisa diantisipasi dengan menyalakan lampu/penyinaran yang lebih banyak dari pada cuaca panas. Ini baik dilakukan untuk memperpanjang usia buku agar bisa dimanfaatkan oleh generasi muda mendatang.
Selain udara lembab, banyaknya debu juga berpengaruh terhadap keengganan kita untuk memegang buku. Karena kita ketahui, jelas bahwa debu merupakan salah satu sumber penyakit. Kita tidak mungkin hanya karena ingin membaca buku, kemudian kita menjadi sakit influenza karenanya. Kan mending menghindari hal-hal itu daripada kita harus bersakitan. Iya kan? Maka dari itu, kebersihan dari debu-debu yang melekat pada buku perlu dibersihkan secara berkala. Mudah, asalkan kita ada kemauan untuk melakukannya mudah-mudahan dimudahkan. Membersihkan debu pada buku cukup mudah, kita ambil kain lap atau kemoceng untuk membersihkan debu-debu itu dengan sekejap debu akan hilang dan buku bisa dipegang untuk dibaca. Namun perlu kita perhatikan dalam membersihkannya, kita juga harus melindungi diri kita dari debu itu sendiri dengan memakai masker sebagai penutup hidung agar tidak kemasukan debu yang kita bersihkan.
Buku-buku kami keluarkan dari kardus, dan kardus yang bagian bawahnya sudah bolong akibat lapuk kemudian kami jemur di bawah terik matahari supaya kardus tersebut mengeras dan harapannya bisa digunakan kembali walaupun perlu ditambal sulam dengan bahan yang sama. Proses pemilahan buku-buku berlangsung cukup lama, sekitar 4-6 jam itupun belum bisa dikatakan selesai. Karena koleksi buku kami hampir mencapai angka seribu, maka perlu ketelitian dan kesabaran dalam melakukan pemeriksaan. Bentuk pemeriksaan yang kami lakukan mulai dari proses klasifikasi berdasarkan bidang ilmu dan nomor klasifikasi, pemilahan kepemilikan karena tidak semua koleksi buku yang ada pada kami semuanya milik kami, ada beberapa milik Dinas Perpustakaan Daerah Pringsewu melalui programnya pinjam rolling, ada sebagian lagi milik rekan komunitas kami Gerobak Pustaka, sehingga kami perlu pisahkan per pemilik. Tujuannya agar memudahkan dalam pendataan sesuai dengan kelompok masing-masing.
Tidak hanya berhenti sampai di situ saja, setelah semua buku sudah pada posisinya, kemudian kami lakukan pengecekan nomor inventaris, agar semua buku bisa diketahui jumlah judul dan eksemplarnya. Dalam proses inventarisasi, seperti yang dilakukan di perpustakaan pada umumnya menggunakan kode masing-masing yang mudah dipahami. Mulai dari nomor urut buku hingga kode perpustakaan dan dari mana buku tersebut diperoleh. Itu semua berdasarkan kemudahan pada masing-masing pengelola, artinya tidak ada batasan khusus yang mengharuskan pembuatan kode nomor inventaris harus begini ataupun begitu. Sembari menyelesaikan inventarisasi, tanpa membuang waktu kami pun melanjutkan pembuatan label pustaka berdasar pengalaman di tempat kerja, yaah namanya juga pustakawan katanya harus bisa bekerja di manapun berada termasuk di rumah yang nantinya akan dijadikan sebuah perpustakaan. Mohon doanya semuanya agar bisa mewujudkan perpustakaan, setidaknya untuk keluarga, tetangga dan masyarakat luas. Aamiin.
Kegiatan liburan kami pun tidak membuat anak dan isteri merasa bosan, karena mungkin liburan kok hanya di rumah. Liburan kan di tempat-tempat wisata atau ke laut seperti mereka di luar sana menghilangkan kepenatan dan kejenuhan aktivitas sehari-hari. Lha ini, bukannya penat dan jenuhnya hilang justru bertambah banyak karena diisi dengan kegiatan-kegiatan seperti hari kerja biasa. Tentu tidak bagi kami. Karena kami biasakan melakukannya tanpa adanya paksaan, kami lakukan dengan suka cita dijadikan sebuah hobby yang dasarnya rasa kecintaan terhadap sebuah kegiatan, jadi tidak membuat kami merasa beban ataupun jenuh, malahan kami merasa happy bisa sambil belajar bersama dengan anak. Ini merupakan nilai plus tersendiri bagi kami yang baru belajar berkecimpung di dunia perpustakaan. Ada senangnya dan banyak juga bahagianya. Hehehe.
 
Support : KANG ERMAN | Johny Template | SIGER POS
Copyright © 2016. MATIC PUSTAKA - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger